Sunday, March 24, 2019

KELOMPOK 2


Prinsip-Prinsip Akuntansi
      Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU) biasanya disebut generally accepted accounting principle (GAAP) yaitu konvensi aturan, dan prosedur yang diperlukan untuk membatasi praktik akuntansi yang berlaku umum diwilayah tertentu pada saat tertentu. Diindonesia dikenal dengan pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) “berlaku umum” berarti prinsip-prinsip ini harus memiliki “dukungan otoritas yang kuat”. Dukungan tersebut biasanya datang dari 2 badan pembuatan standar: financial accounting standards board-FASB (Dewan Standard Akuntansi Keuangan) dan securities and exchange commission-SEC (Badan Pengawas Pasar Modal).      
        Sebelum pembentukan FASB, prinsip-prinsip akuntansi dikembangkan dengan dasar masalah demi masalah. Badan-badan pembuatan peraturan mengembangkan peraturan-peraturan dan metode-metode akuntansi untuk memecahkan masalah-masalah tertentu para kritikus menganggap bahwa pendekatan masalah demi masalah memakan banyak waktu dan mengarah keperaturan dan praktik yang tidak konsisten. Tidak ada kerangka konseptual akuntansi yang ditumpahkan dengan jelas untuk menjadi acuan dalam menyelesaikan masalah-masalah baru.
Sebagai tanggapan atas kritik ini MASB mengembangkan sebuah kerangka konseptual kerangka ini berfungsi sebagai dasar untuk memecahkan masalah-masalah akuntansi dan pelaporan. FASB menghabiskan cukup banyak waktu dan tenaga pada proyek ini dewan melihat kerangka konseptual sebagai sebuah konstitusi, sebuah system yang menyatu Antara tujuan dan dasar yang saling berkaitan.

Kerangka konseptual FASB mencakup 4 bagian berikut:
  1. Tujuan tujuan pelaporan keuangan
  2. Karakteristik – karakteristik kualitatif informasi akuntansi
  3. Elemen-elemen laporan keuangan
  4. Panduan panduan pengoperasian (asumsi,prinsip,dan kendala).
        Tujuan – tujuan Pelaporan Keuangan
FASB mulai bekerja dengan kerangka konseptual dengan melihat pada tujuan-tujuan dasar dari pelaporan keuangan. Menentukan tujuan-tujuan ini memerlukan jawaban atas beberapa pertanyaan dasar seperti siapa yang menggunakan laporan keuangan ? mengapa? informasi apa saja yang mereka butuhkan ? seberapa mengertikah pengguna laporan keuangan mengenai bisnis dan akuntansi ? Bagaimana seharusnya informasi keuangan dilaporkan sehingga dapat dimengerti sebaik mungkin ?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, FASB menyimpulkan bahwa tujuan-tujuan dari pelaporan keuangan adalah untuk menyerdiakan informasi yang :
1.          Berguna bagi mereka yang menbuat keputusan investasi dan kredit.
2.          Membantu dalam memperkirakan arus kas dimasa yang akan datang.
3.          Mengidentifikasikan sumber daya ekonomi (asset), klaim atas sumber daya tersebut (kewajiban), serta perubahan pada sumber daya dan klaim tersebut.
Kemudian FASB berusaha untuk menggambarkan karakteristik-karakteristik yang membuat informai akuntansi berguna

Karakteristik – karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi
1.Relevansi
          Informasi akuntansi memiliki relevansi (relevance) jika dapat membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Informasi yang relevan memiliki nilai prediktif atau nilai umpan balik maupun keduanya. Nilai prediktif (predictive value) membantu pengguna meramalkan kejadian-kejadian dimasa depan. Sebagai Contoh, ketika ExxonMobil mengeluarkan laporan keuangan, informasi yang terdapat didalamnya dianggap relevan karena menyediakan dasar untuk memprediksi pendapatan di masa depan. Nilai umpan balik ( feedback value) menguatkan atau memperbaiki ekspektasi sebelumnya. Ketika ExxonMobil mengeluarkan laporan keuangan, hal tersebut mengkonfirmasikan atau memperbaiki ekspektasi sebeleumnya mengenai kondisi keuangan perusahaan
Selain itu, informasi akuntansi memiliki relevansi jika dianggap tepat waktu (timely). Informasi tersebut harus harus tersedia bagi pembuat keputusan sebelum ia kehilangan kemampuannya mempengaruhi keputusan.
2.Dapat Diandalkan 
 Kesalahan dan reliabilitas informasi berarti informasi itu terbebas dari kesalahan dan bias. Agar dapat diandalkan, informasi akuntansi harus diverivikasi, agar dapat membuktikan bahwa informasi tersebut terbebas dari kesalahan dan bias. Informasi tersebut juga harus merupakan penyajian yang jujur atas apa yang seharusnya dengan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Terakhir , Informasi harus netral dimana informasi tersebut tidak boleh dipilih, dibuat, atau disajikan sesuai keinginan sekelompok pengguna yang berkepentingan diatas yang lainnya. Untuk menjamin keandalan, akuntan publik bersertifikat melakukan audit terhadap laporan keuangan.

3.Dapat Dibandingkan i
 nformasi akuntansi tentang perusahaan paling berguna ketika dapat dibandingkan dengan informasi akuntansi tentang perusahaan lainnya. Perbandingan atau komparabilitas dihasilkan ketika perusahaan-perusahaan yang berbeda menggunakan prinsip-prinsip akuntansi yang sama. Secara konseptual, perbandingan juga harus memperluas metode yang digunakan oleh perusahaan dalam mematuhi prinsip-prinsip akuntansi. Metode-metode akuntansi mencakup biaya persediaan FIFO, LIFO serta berbagai metode depresiasi (penyusutan). Pada titik ini, perbandingan metode tidak diperlukan, bahkan untuk perusahaan-perusahaan pada industry yang sama. Satu-satunya kebutuhan akuntansi adalah setiap perusahaan harus mengungkapkan metode-metode akuntansi yang digunakan. Dengan pengungkapan tersebut, pengguna eksternal dapat menentukan apakah informasi keuangan dapat dibandingkan.



4.    Konsistensi
    Konsistensi berarti sebuah perusahaan menggunakan prinsip-prinsip dan metode-metode akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Jika perusahaan memilih menggunakan FIFO sebagai metode Biaya persediaan pada tahun pertama beroperasi, maka diharapkan perusahaan akan menggunakan FIFO pada Tahun-tahun berikutnya. Ketika informasi keuangan telah dilaporkan secara konsisten, laporan keuangan memperbolehkan analisis tren yang berarti dalam perusahaan.
  
    Sebuah perusahaan dapat beralih ke metode akuntansi yang baru. Untuk melakukan hal tersebut, manajemen harus membenarkan bahwa metode yang baru akan menghasilkan informasi keuangan yang lebih berarti. Pada tahun dimana perubahan terjadi, perubahan harus diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan. Pengungkapan tersebut membuat penggunaan laporan keuangan waspada terhadap kurangnya konsistensi


Elemen- elemen Laporan Keuangan
         Bagian yang penting dari kerangka konseptual akuntansi adalah seperangkat definisi yang mengambarkan istilah-istilah dasar yang digunakan dalam akuntansi. FASB mengacu pada seperangkat definisi ini sebagai elemen-elemen laporan keuangan (elements of financial statement). Elemen-elemen ini mencakup beberapa istilah seperti asset, kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban. 

Oleh Karena itu elemen-elemen yang sangat penting, menjadi penting bahwa mereka harus dibatasi dengan tepat dan diterapkan secara universal. Menentukan definisi yang pantas untuk sebagian besar dari elemn ini tidaklah mudah. 


Panduan – panduan Pengoperasian
Tujuan-tujuan dari Pelaporan Keuanga, karakteristik-karaktertistik kualitatif informasi akuntansi, dan elemen-elemen laporan keuangan sangatlah luas. Oleh karena para akuntan yang berpraktik harus memecahkan masalah-masalah praktiknya, dibutuhkan panduan pengoperasian, kita mengelompokan tiga panduan sebagai asumsi, prinsip, dan kendala. Panduan-panduan ini telah dibuat dengan baik dan diterima dalam akuntansi.
            Asumsi (assumption) merupakan dasar bagi bagi proses akuntansiPrinsip (principle) adalah aturan khusus yang mengindikasikan bagaimana kejadian-kejadian ekonomi harus dilaporkan dalam proses akuntansi. Kendala (constraint) dalam proses akuntansi memungkinkan penyimpangan prinsip-prinsip tersebut dibawah kondisi – kondisi tertentu.




Asumsi

Prinsip

Kendala
Unit Moneter (Satuan Uang)
Entitas Ekonomi
Periode Waktu
Kelangsungan Usaha
Pengakuan Pendapatan
Penandingan
Pengungkapan Penuh
Biaya
Materialitas
Konservatisme

Asumsi - asumsi
    Asumsi Unit Moneter
Asumsi unit moneter merupakan asumsi bahwa unit pengukuran relative tetap konstan seiring waktu.


      Asumsi Entitas Ekonomi
Asumsi Entitas Ekonomi menyatakan bahwa aktivitas entitas harus dijaga terpisah dan berbeda dari aktivitas pemiliknya dan seluruh entitas ekonomi lainnya.
Asumsi Periode Waktu
Asumsi Periode Waktu menyatakan bahwa umur ekonomis dari sebuah bisnis dapat dibagi kedalam periode waktu buatan.
   Asumsi Kelangsungan Usaha
          Asumsi Kelangsungan Usaha mengasumsikan bahwa perusahaan akan meneruskan kegiatan operasionalnya cukup lama untuk menjalanka tujuan-tujuan yang ada.

Prinsip Pengakuan Pendapatan
Prinsip Pengakuan Pendapatan menyebutkan bahwa pendapatan harus diakui pada periode akuntansi saat pendapatan dihasikan. Namun demikian, menerapkan prinsip umum ini pada praktiknya terbilang sulit. Ketika terjadi penjualan, pendapatan diakui pada saat penjualan. Dasar penjualan ini melibatkan transaksi pertukaran antara penjual dan pembeli. Harga jual adalah pengukura objektif atas jumlah pendapatan yang diakui. Meskipun demikian, terdapat 2 pengecualian terhadap dasar penjualan untuk pengukuran pendapatan yang berlaku umum. Pengecualian tersebut adalah metode presentase penyelesaian dan metode angsuran.
  1. Metode persentase penyelesaian

      Pada kontrak – kontrak konstruksi jangka panjang,pengakuan pendapatan biasanya dibutuhkan sebelum kontrak diselesaikan . Dalam metode persentase penyelesaian pendapatan, biaya dan laba kotor diakui pada setiap periode didasarkan kemajuan penyelesaian pembangunan atau persentase penyelesaian. Biaya pembangunan ditambah, ditambah dengan laba kotor sampai dengan tanggal tertentu diakumulasi dalam rekening persediaan (pembangunan dalam pelaksanaan) dan penagihan atas penyelesaian dicatat dalam rekening kontra persediaan (penagihan atas pembangunan dalam pelaksanaan)
Metode persentase penyelesaian ini digunakan dengan alasan dalam kontrak tersebut penjual dan pembeli masing-masing mempunyai hak yang dapat digunakan. Pembeli berhak untuk mendapatkan kinerja tertentu dari kontrak dan penjual berhak mendapatkan pembayaran berkala. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penjualan terjadi secara terus menerus sesuai dengan penyelesaian pekerjaan dan pendapatan harus diakui dengan tingkat penyelesaian.
Metode persentase penyelesaian dan metode kontrak selesai dapat digunakan dalam keadan tertentu, tetapi kedua metode tersebut tidak dapat digunakan dalam keadaan yang sama. Metode persentase penyelesaian harus digunakan apabila taksiran kemajuan penyelesaian, pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya kontrak jangka panjang dapat ditentukan secara layak dan kondisi-kondisi dibawah ini harus dipenuhi, yaitu :

• Kontrak menentukan secara jelas hak yang dapat digunakan
berkenaan dengan produk atau jasa yang akan diberikan oleh penjual dan diterima oleh pembeli, imbal balik pertukaran, tata cara dan waktu pelunasan/penyelesaian.
• Pembeli diharapkan dapat memenuhi kewajibannya dalam kontrak.
• Kontraktor diharapkan dapat melaksanakan kewajiban kontrak.



Pada kontrak-kontrak konstruksi jangka panjang, pengakuan pendapatan biasanya
dibutuhkan sebelum kontrak diselesaikan. Sebagai contoh, asumikan bahwa Warrior Construction Co. memiliki kontrak untuk membangun bendungan bagi Departemen Tata Kota Amerika Serikat senilai $400 juta. Pembangunan diperkirakan akan berlangsung seiama 3 tahun (muJaj tahun 2003) dengan biaya senilai $360juta. Jika Warrior menerapkan metode titik penjualan, Warrior tidak akan melaporkan pendapatan dan laba pada dua tahun pertama. Pada tahun 2005, saat penyelesaian dan penjualan terjadi, Warrior akan melaporkan njiai $400 juta untuk pendapatan, $360 juta untuk biaya, dan $40 juta untuk laba keseluruhan. Apakah Warrior benar-benar tidak menghasilkan pendapatan dan tidak
memperoleh laba pada tahun 2003 dan 2004? Jelas tidak. Sebaliknya, proses menghasilkan pendapatan bisa diselesaikan secara nyata di berbagai tingkatan. Oleh karena itu, pendapatan harus diakui berdasarkan perkembangan konstruksi.

Saat mengakui pendapatan, Warrior dapat menerapkan metode persentase penyelesaian (percentage-of-completion). Metode ini mengakui pendapatan proyek jangka panjang berdasarkan perkiraan yang pantas atas kemajuan menuju penyeiesaian. Kemajuan menuju penyelesaian diukur dengan membandingkan biaya yang dikeluarkan dalam setahun dengan total biaya yang diperkirakan untuk proyek keseluruhan. Persentase tersebut dikali dengan total pendapatan untuk proyek. Persentase ini kemudian diakui sebagai pendapatan untuk periode tersebut. Rumus untuk metode ini ada!ah sebagai berikut.



 












Rumus untuk menghitung laba kotor pada periode berjalan

 








            Sekarang mari kita lihat ilustrasi metode persentase penyelesaian. Asumsikan bahwa Warrior Construction Co.    mengeluarkan biaya sebesar $54 juta dj tahun 2003, $ 180 uta di tahun 2004, dan $126 juta di tahun 2005 untuk proyek bendungan. Bagian dari pendapatan senilai $400 juta yang diakui pada setiap tahun dalam tiga tahun.


Tidak ada estimasi yang dibuat atas persentase pekerjaan yang diselesaikan selama
periode akhir. Pada periode akhir, seluruh sisa pendapatan diakui. Pada contoh ini, estimasi biaya perusahaan sangat akurat. Biaya yang dikeluarkan pada tahun ketiga sebesar 35% dari total estimasi biaya ($126.000  $360.000). Laba kotor yang diakui pada tiap periode adalah sebagai berikut.



 









      
Penggunaan metode persentase penyelesaian melibatkan subjektifitas tertentu.Akibatnya, kesalahan mungkin terjadi dalam menentukan jumlah pendapatan diakui dan laba kotor diakui. Namun untuk menunggu hingga penyeiesaian akan mengubah laporan keuangan setiap periode secara serius. Alaminya, lika tidak mungkln untuk memperoleh estimasi biaya dan perkembangan proyek, maka pendapatan harus diakui pada tanggaJ penyelesaian dan bukan dengan menggunakan melode persentase penyelesaian



2. Metode Angsuran
     Dasar (basis) iainnya dalam mengakui pendapatan adalah penerimaan kas. Basis kas umumnya digunakan hanya pada saat terjadi kesulitan dalam menentukan jumlah pendapatan akibat penjualan kredit karena ketidak pastian dalam penagihan. Satu pendekatan pengakuan pendapatan yang paling dikenal adalah metode angsuran (installment method). Dengan menggunakan metode angsuran, setiap pengurnpulan kas dari pelanggån terdiri atas (l) pengernbalian bagian harga pokok penjualan, dan (2) bagian laba kotor dari penjualan. Sebagai contoih, jika tingkat laba kotor pada tanggal penjualan adalah 40%, setiap penerimaan kas terdiri atas  60% pengembalian harga pokok penjualan dan 40% laba kotor.
Rumus untuk mengakui laba kotor adalah sebagai berikut.


 





Sebagai contoh, asumsikan bahwa dealer peralatan mesin pertanian Iowa pada tahun
pertama operasinya memiliki penjualan kredit senilai $ 600.000. Harga pokok penjualannya senilai $420.000. Sedangkan total laba kotornya sebesar $ 180.000 ($ 600.000 -  420.000) dan persentase laba kotornya adalah ($ 180.000 + $600.000). Penagihan atas penjua!an kredit adalah sebagai berikut: tahun pertama senilai $280.000 (pembayaran uang muka ditambah pembayaran bulanan), tahun kedua senilai $200.000, dan tahun ketiga senilai $ 120.000. Perhitungan laba kotor yang diakui. (Beban bunga diabaikan untuk contoh ini)

 









Berdasarkan metode angsuran, laba kotor diakui pada periode saat kas dipero!eh.
     Seperti yang telah diindikasikan sebelumnya, metode angsuran digunakan ketika terdapat risiko tidak tertagihnya piutang usaha. Pada kasus ini,penjualan itu sendiri bukaniah bukti yang cukvp untuk membuat pendapatan layak diakui.


Prinsip Penandingan (Pengakuan Beban)

Prinsip ini menyatakan bahwa beban harus dikaitkan dengan pendapatan pada periode dimana usaha untuk memperoleh pendapatana dilakukan. Beban tidak diakui ketika kas dibayarkan, atau ketika pekerjaan dilakukan, atau ketika barang diproduksi. Tetapi, beban diakui ketika tenaga kerja (jasa) atau barang benar-benar berkontribusi terhadap pendapatan. Biaya yang akan menghasilkan pendapatan pada periode akuntansi dimasa yang akan datang diakui sebagai asset. Contohnya antara lain persediaan barang dagang, beban dibayar dimuka, dan asset pabrik. Biaya-biaya ini disebut Harga perolehan (biaya) yang belum kadaluawarsa. Biaya perolehan yang belum kadaluwarsa berubah menjadi beban dengan cara Harga Pokok Penjualan dan Beban Operasional.



Prinsip Pengungkapan Penuh

Prinsip Pengungkapan Penuh mengharuskan kondisi-kondisi dan kejadian-kejadian yang membuat perbedaan terhadap pengguna laporan keuangan harus diungkapkan. Kepatuhan terhadap prinsip pengungkapan penuh dilihat dari data pada laporan keuangan dan informasi pada catatan atas laporan keuangan. Catatan pertama di kebanyakan kasus adalah ringkasan kebijakan-kebijakan akuntansi yang signifikan. Termasuk juga di dalamnya, antara lain metode-metode yang digunakan untuk biaya persediaan, depresiasi, asset pabrik dan amortisasi asset tidak berwujud.
Prinsip Biaya

Prinsip biaya menyatakan bahwa asset harus dicatat pada biayanya. Biaya digunakan karena biaya tersebut relevan dan andal. Biaya disebut relevan karena menunjukan harga yang dibayar, asset yang dikorbankan, dan kesepakatan yang dibuat pada tanggal perolehan. Biaya disebut andal karena keterukurannya yang objektif, berdasarkan fakta dan dapat diverifikasi. Biaya juga merupakan hasil dari transaksi pertukaran. Biaya adalah dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.
  Kendala dalam Akuntansi

Kendala (constraint) dalam proes akuntansi memungkinkan penyimpangan prinsip-prinsip tersebut dibawah kondisi-kondisi tertentu.

1.    Materialitas
Materialitas berkaitan dengan dampak suatu pos terhadap kondisi keuangan dan operasional perusahaan secara keseluruhan. Suatu pos dikatakan material ketika memiliki kemungkinan untuk mempengaruhi keputusan investor dan kreditur yang jujur. Pos tersebut menjadi tidak material jika tidak memiliki dampak terhadap pembuat keputusan. Pendek kata, jika pos tersebut tidak membuat perbedaan pada pembuat keputusan, GAAP tidak harus diikuti. Untuk menentukan materialitas dari jumlah, akuntan biasanya membandingkannya dengan pos tertentu seperti total asset, total kewajiban dan laba bersih.

2.    Konservatisme

Konservatisme menyatakan bahwa ketika anda berada dalam keraguan, sebaiknya anda memiliki metode yang tampaknya paling tidak mungkin untuk menyajikan terlalu tinggi asset dan laba. Hal ini bukan berarti asset dan laba disajikan terlalu rendah. Conservative memberikan panduan yang beralasan untuk itu








SOAL
1.      Carver construction company berada dalam kontrak untuk membangun sebuah kondominium dengan kontrak senilai $2.000.000. Pembangunan akan memakan waktu 18 bulan dengan estimasi biaya sebesar $1.400.000. konstruksi dimulai pada bulan november 2004 dan selesai pada bulan april 2006. Biaya kontruksi aktual yang dikeluarkan setiap tahunnya adalah sebesar : 2004. $140.000 ; 2005,  $910.000: dan 2006, $350.000
Diminta :
Hitunglah laba kotor yang harus di akui setiap tahunnya
Tahun
Biaya Dikeluarkan
(Periode Berjalan)
Total Estimasi
Text Box: ÷Biaya
Text Box: ×Text Box: =Persentase Penyelesaian (Periode Berjalan)
Text Box: =Total Pendapatan
Pendapatan diakui (Periode Berjalan)
2004
$ 140.000
$1.400.000
10%
$2.000.000
$200.000
2005
910.000
1.400.000
65%
2000.000
1.300.000
2006

Jumlah untuk menyelesaikan kontrak

500.000
Total
$1.400.000



$2.000.000
Tahun
Pendapatan Diakui (Periode Berjalan)
Text Box: ÷Biaya Aktual Dikeluarkan (Periode Berjalan)
Text Box: =Laba Kotor Diakui  (Periode Berjalan)

2004
$200.000
$140.000
$60.000

2005
1.300.000
910.000
390.000

2006
500.000
350.000
150.000

Total
$2.000.000
$1.400.000
$600.000



2.    Valdes inc menggunakan metode angsuran pada akutansi untuk penjualannya pada tahun 2003, tahun pertamannya beroperasi valdes melakukan penjualan secara kedit senilai $900.000 dan harga pokok penjualan sebesar $600.000. penagiah penjualan kredit adalah sebagai berikut : 20003, $330.000;2004,$420.000; dan 2005, $150.000
Diminta :
Hitunglah jumlah laba kotor yang akan di akui setiap tahunnya

Tahun
Perolehan Kas
Presentase Laba
Kotor
Laba Kotor
Diakui
2003
$330.000
33,33%
$110.000
2004
420.000
33,33%
140.000
2005
150.000
33,33%
50.000

$900.000

$300.000


$900.000-$600.000 = $ 300.000;$300.000 900.000 = 33,33%






No comments:

Post a Comment