A. KEWAJIBAN
JANGKA PENDEK/KEWAJIBAN LANCAR
I.
Sifat Kewajiban Lancar
Kewajiban
jangka pendek adalah kewajiban yang diperkirakan akan dibayar dengan
menggunakan asset lancar atau menciptakan kewajiban lancar lainnya dan harus
segera dilunasi dalam jangka waktu 1 tahun.
Yang
dimaksud dalam kategori kewajiban jangka pendek adalah hutang usaha, pendapatan
diterima dimuka, hutang pajak penghasilan karyawan, hutang bunga, hutang upah,
hutang pajak penjualan, dan kewajiban jangka panjang yang akan segera jatuh
tempo dalam jangka waktu 1 tahun. Yang termasuk dalam kategori kewajiban lancar antara
lain sebagai berikut :
1. Hutang
usaha (accounts payable)
Hutang
usaha timbul pada saat barang atau jasa diterima sebelum melakukan pembayaran.
Dalam transaksi perusahaan dagang, seringkali perusahaan membeli barang
dagangan secara kredit dari pemasok untuk dijual kembali kepada pelanggannya.
2. Pendapatan
diterima dimuka (unearned revenue)
Pendapatan
diterima dimuka timbul pada saat pembayaran diterima sebelum barang atau jasa
diberikan. Uang yang diterima dimuka ini, bagi pihak yang menyewakan adalah
merupakan hutang, karena uang akan pe
3. Pajak penghasilan (employees income
taxes payable)
Merupakan jumlah pajak yang terhutang kepada pemerintah
atas besarnya gaji karyawan yang terkena pajak penghasilan. Pemberi kerja
selaku wajib pungut (wapu) berkewajiban untuk memotong dan memungut pajak atas
gaji karyawan yang melebihi jumlah penghasilan tidak kena pajak (PTKP).
4. Hutang bunga (interest payable)
Merupakan jumlah
bunga yang terhutang kepada kreditur atas dana yang dipinjam. Dalam hal ini,
debitur telah menikmati dana kreditur selama periode berjalan namun baru akan
dibayarkan di periode akuntansi berikutnya sesuai dengan tanggal jatuh tempo
pinjaman.
1
5.
Hutang Upah (wages payable)
Jumlah upah yang
terhutang kepada karyawan atas manfaat yang telah diterima perusahaan melalui
pemakaian jasa karyawan selama periode berjalan. Dalam hal ini, perusahaan
telah menikmati / menggunakan jasa karyawan dalam periode berjalan namun baru
akan dibayarkan di periode akuntansi berikutnya sesuai dengan tanggal
pembayaran yang telah ditetapkan.
6. Hutang Pajak Penjualan (sales taxes
payable)
Merupakan utang atas
pajak yang dipungut dari pembeli ketika penjualan terjadi. Seperti kita ketahui
bahwa sebagian produk yang kita beli dari toko pengecer dikenakan pajak
penjualan.
7. Kewajiban Jangka Panjang yang Bersifat Lancar (current portion of long term debt)
Adalah sebagian dari kewajiban jangka panjang yang akan
segera jatuh tempo dalam jangka waktu maksimal satu tahun. Kewajiban ini
tergolong sebagai kewajiban lancar.
Contoh : Asumsi bahwa tanggal 30 September 2008
perusahaan menerbitkan surat hutang yang bernilai nominal Rp 50.000.000. Surat
hutang ini akan jatuh tempo secara bertahap dalam jangka waktu lima tahun,
masing-masing Rp 10.000.000 setiap tahunnya, yang terhitung mulai 30 September
2009. Ketika laporan keuangan disiapkan pada tanggal 31 Desember 2008, maka Rp
10.000.000 seharusnya dilaporkan sebagai kewajiban lancar, sedangkan sisanya
sebesar Rp 40.000.000 akan dilaporkan sebagai kewajiban jangka panjang.
II.
Akuntansi Atas Utang Wesel Jangka Pendek
Kewajiban dalam bentuk janji tertulis dicatat sebagai
utang wesel. Wesel bayar memerlukan pembayaran bunga dan seringkali diterbitkan
untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan (pendanaan) jangka pendek. Wesel dapat
diterbitkan dengan jangka waktu pembayaran yang beragam. Wesel yang harus
dibayar segera dalam jangka waktu satu tahun akan diklarifikasikan dalam neraca
sebagai kewajiban lancar.
Untuk mengilustrasikan akuntansi atas wesel bayar
berbunga, asumsi bahwa perusahaan pada tanggal 1 september 2008 meminjam uang
sebesar
Rp. 100.000.000 dari bank. Dalam hal ini, perusahaan menerbitkan wesel
bayar dengan tingkat suku bunga 12% per-tahun. Wesel bayar akan jatuh tempo
dalam jangka waktu 6 bulan sejak tanggal penerbitan. Periode akuntansi
perusahan akan berakhir setiap tanggal 31 desember.
2
Jadi, dalam contoh
ini diasumsikan bahwa periode akuntansi perusahaan adalah tahunan, bukan
bulanan, dimana satu periode akuntansi mencakup 12 bulan, yaitu dari 1 januari
hingga 31 desember, sehingga tanggal jatuh tempo dan tanggal penerbitan wesel
berada dalam periode akuntansi yang berbeda.
Keseluruhan ayat
jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi diatas adalah :
|
Tanggal
|
Nama Perkiraan
|
Debit
|
Kredit
|
|
01 Sept 08
31 Des 08
1 Jan 09
29 Feb 09
|
Kas
Utang wesel
(Penerbitan Wesel)
Beban Bunga
Utang Bunga
(Bunga berjalan =
4
bln x 12%/12 bln x 100 Juta)
Utang Bunga
Beban Bunga
(Jurnal Pembalik)
Utang Wesel
Beban Bunga*
Kas
(Pembayaran utang wesel)
*6 bln x 12%/12 bln x 100 juta
|
100.000.000
-
4.000.000
-
4.000.000
-
100.000.000
6.000.000
-
|
-
100.000.000
-
4.000.000
-
4.000.000
-
-
106.000.000
|
Karena ayat jurnal pembalik sifatnya opsional
(pilihan) dan jika seandainya perusahaan pada tanggal 1 Januari 2009 memilih
untuk tidak membuat ayat jurnal pembalik, maka jurnal yang akan dibuat untuk
mencatat pembayaran utang wesel pada saat jatuh tempo akan menjadi :
|
Tanggal
|
Nama Perkiraan
|
Debit
|
Kredit
|
|
29 Feb 09
|
Utang Wesel
Utang Bunga
Beban Bunga*
Kas
*(2 bln x 12%/12
bln x 100 juta)
|
100.000.000
4.000.000
2.000.000
|
-
-
-
106.000.000
|
Meskipun ayat jurnal pembalik dibuat ataupun
tidak (1 Jan 09), penekanannya adalah bahwa beban bunga untuk tahun 2008
sebesar Rp 4.000.000 (untuk 4 bulan) dan beban bunga untuk tahun 2009 sebesar
Rp 2.000.000 (untuk 2 bulan). Beban bunga sebesar Rp 4.000.000 akan dilaporkan
dalam bentuk laporan laba rugi untuk
tahun yang berakhir 31 Desember 2008 sebagai beban-beban lain.
3
Akun beban bunga ini merupakan perkiraan
sementara, maka akan ditutup pada 31 desember 2008.
Berikut ini merupakan ilustrasi akuntansi atas wesel
bayar berbunga, yang diterbitkan oleh perusahaan dalam rangka menggantikan
sementara utang usaha yang telah jatuh tempo, asumsi bahwa periode akuntansi
perusahaan adalah tahunan yang berakhir pada tanggal 31 Desember.
1 Maret Membeli barang dagangan seharga Rp 30.000.000
dengan persyaratan kredit 1/10,n/30. System pencatatan persediaan yang
digunakan oleh perusahaan adalah metode periodik.
31 Maret Untuk menggantikan sementara utang usaha
yang telah jatuh tempo atas transaksi pembelian barang dagangan yang dilakukan
pada tanggal 1 Maret yang lalu, perusahaan menerbitkan wesel bayar dengan nilai
nominal sebesar Rp 30.000.000. wesel bayar ini berjangka waktu 45 hari dengan
tingkat suku bunga 10% per tahun (asumsi = 360 hari).
15 Mei Perusahaan melunasi utang wesel yang
telah jatuh tempo (yang diterbitkan pada tanggal 31 Maret yang lalu).
Keseluruhan ayat jurnal yang diperlukan untuk
mencatat transaksi diatas adalah:
|
Tanggal
|
Nama Perkiraan
|
Debit
|
Kredit
|
|
1 Maret
31 Maret
15 Mei
|
Pembelian
Utang usaha
Utang usaha
Utang wesel
Utang wesel
Beban bunga*
Kas
*(45 hari/360
hari x 10% x 30 juta)
|
30.000.000
-
30.000.000
-
30.000.000
375.000
-
|
-
30.000.000
-
30.000.000
-
-
30.375.000
|
Dalam praktek, kadang-kadang debitur dapat
menerbitkan wesel bayar yang di diskontokan, bukan wesel bayar berbunga.
Meskipun wesel bayar yang di diskontokan tidak menyebutkan secara spesifik
besarnya tingkat suku bunga, akan tetapi, kreditur sesungguhnya telah
menetapkan tingkat suku bunga. Bunga yang telah ditetapkan oleh kreditur ini
akan secara otomatis mengurangi nilai nominal wesel yang dinamakan dengan
diskonto.
4
Berikut ini merupakan ilustrasi akuntansi atas wesel
bayar yang di-diskontokan:
Asumsi bahwa perusahaan pada tanggal 1 September 2008
meminjam uang sebesar Rp 100.000.000 dari Bank. Perusahaan menerbikan wesel
bayar dengan tingkat diskonto 12% per tahun. Wesel bayar akan jatuh tempo dalam
jangka waktu 6 bulan sejak tanggal penerbitan. Periode akuntansi akan berakhir
setiap tanggal 31 Desember.
|
Tanggal
|
Nama Perkiraan
|
Debit
|
Kredit
|
|
1 Sept 08
29 Feb 09
|
Kas
Beban bunga
Utang wesel
(Penerbitan
wesel)
Utang wesel
Kas
(Pembayaran utang
wesel)
|
94.000.000
6.000.000
-
100.000.000
-
|
-
-
100.000.000
-
100.000.000
|
Perhatikanlah bahwa dengan utang wesel sebesar Rp
100.000.000 perusahaan hanya akan menerima bersih jumlah pinjaman sebesar Rp
94.000.000. dalam hal ini (untuk wesel bayar yang di-diskontokan), akun beban bunga
akan langsung dicatat atau diakui pada saat wesel bayar diterbitkan (ditanda
tangani). Tidak ada ayat jurnal yang dibuat untuk mengakui bunga berjalan pada
tanggal 31 Desember 2008, demikian juga tidak ada pengakuan atas beban bunga
pada saat utang wesel dibayarkan.
III.
Kewajiban Kontinjensi
Suatu
transaksi yang terjadi di masa lampau akan menimbulkan kewajiban apabila
kejadian tertentu terjadi di masa mendatang. Kewajiban potensial ini dinamakan
sebagai kewajiban kontinjensi (contingent liabilities), dimana kewajiban belum
terjadi pada tanggal neraca. Kewajiban ini baru akan terjadi secara aktual
tergantung pada adanya kejadian di masa mendatang.
Banyak
perusahaan (penjual) yang setuju untuk memberikan garansi kepada pelanggannya
atas unit produk yang kurang memuaskan atau untuk mengganti barang yang rusak.
Ketika jaminan ini melibatkan biaya di masa yang akan datang, maka estimasi
atas biaya garansi sebelumnya dibuat dan ditandingkan terhadap pendapatan
periode berjalan.
Sebuah
perusahaan yang menjual mesin pendingin akan memiliki kewajiban kontijensi
untuk estimasi biaya yang akan terjadi sehubungan dengan garansi yang diberikan
atas mesin pendingin yang terjual. Transaksi pemjualan ini akan menimbulkan
kewajiban kontinjensi karena kewajiban tersebut akan sangat tergantung pada
kejadian di masa mendatang.
5
Kejadian
di masa mendatang ini adalah jika ada pembeli yang meminta perbaikan atas mesin
pendingin yang dibelinya. Kejadian ini timbul sebagai hasil dari transaksi yang
telah terjadi di masa lampau, yaitu penjualan mesin pendingin.
Jika
kewajiban kontinjensi sangat mungkin terjadi (probable) dan dapat diestimasi
secara layak, maka kewajiban tersebut harus dicatat dalam akun kewajiban dan
disajikan dalam laporan keuangan. Dalam contoh di atas, biaya garansi atas
mesin pendingin merupakan kewajiban kontinjensi yang dapat dicatat dan
dilaporkan. Biaya garansi tersebut sangat besar kemungkinannya terjadi, karena
biaya garansi ini pasti akan terjadi sebesar jumlah tertentu. Besarnya biaya
garansi ini dapat diestimasi secara memadai berdasarkan pengalaman perusahaan
di masa lampau.
Untuk
mengilustrasikan kewajiban garansi, asumsi bahwa perusahaan sepanjang bulan
Agustus 2008 telah melakukan penjualan produk senilai Rp 120.000.000.-. Dalam
hal ini, perusahaan memberikan jaminan atau garansi selama satu tahun penuh
kepada pembeli atas kemungkinan terjadinya kerusakan produk yang bukan
diakibatkan oleh kesalahan pembeli. Berdasarkan pengalaman masa lampau,
diketahui bahwa besarnya rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki
kerusakan produk selama masa garansi adalah 6% dari nilai jual. Ayat jurnal
penyesuaian yang diperlukan untuk mencatat (mengakui) estimasi beban garansi
atas penjualan produk di bulan Agustus 2008 adalah :
|
Tanggal
|
Nama perkiraan
|
Debit
|
Kredit
|
|
31/8/2008
|
Beban
Garansi Produk
Utang Garansi Produk
(6%
x 120.000.000)
|
7.200.000
|
7.200.000
|
Berdasarkan
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum, estimasi atas beban garansi
seharusnya dibuat dan dicatat pada saat terjadinya penjualan produk, buka pada
saat terjadinya klaim aktual dari pembeli yang mengajukan klaim perbaikan.
Perlakuan akuntansi ini erat kaitannya dengan dasar akrual dan konsep
penandingan yang telah dibahas pada bab 3 yang lalu, yaitu bahwa beban-beban
yang dikorbankan dalam rangka menciptakan pendapatan haruslah dilaporkan dalam
periode yang sama sebagaimana pendapatan tersebut dilaporkan, tanpa harus
menunggu sampai beban-beban tersebut dibayarkan. Dalam ilustrasi di atas,
besarnya estimasi beban garansi untuk produk yang telah terjual selama bulan
Agustus haruslah ditandingkan ke pendapatan penjualan bulan Agustus, meskipun
klaim aktual mungkin baru akan terjadi di bulan-bulan berikutnya setelah
Agustus. Berbeda dengan perlakuan pajak (untuk menghitung laba kena pajak),
dimana beban garansi baru boleh diakui sebagai pengurang pendapatan apabila
beban garansi tersebut benar-benar secara aktual telah dikeluarkan.
Pada
saat produk yang rusak diperbaiki, biaya perbaikan akan dicatat dalam pembukuan
dengan cara mendebet akun utang garansi produk dan mengkredit akun kas atau
persediaan.
6
Melanjutkan
ilustrasi di atas, asumsi bahwa pada tanggal 9 September 2008, seorang pembeli
mengajukan klaim kepada perusahaan atas suku cadang yang rusak sebesar Rp.
550.000,-. Ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat klaim aktual tersebut
adalah:
|
Tanggal
|
Nama perkiraan
|
Debit
|
Kredit
|
|
9/9/2008
|
Utang
Garansi Produk
Suku Cadang
|
550.000
|
550.000
|
Apabila suatu kewajiban kontinjensi, besar
kemungkinannya terjadi, akan tetapi tidak dapat diestimasi secara layak, atau
termasuk dalam kategori mungkin terjadi, maka kewajiban kontinjensi tersebut
tidak dicatat dalam akun kewajiban, tetapi harus diungkapkan dalam catatan
laporan keuangan. Dalam praktek, untuk menentukan antara kewajiban kontinjensi
yang kemungkinan besar terjadi dengan kewajiban kontinjensi yang mungkin
terjadi, memerlukan suatu pertimbangan profesional tertentu dari pihak
manajemen. Contoh kewajiban kontinjensi yang harus diungkapkan dalam catatan
laporan keuangan adalah dalam kasus tuntutan pengadilan, dimana besarnya
tuntutan biasanya sangat tidak memadai untuk dapat diestimasi, sehingga tidak dapat
dicatat dalam akun kewajiban.
IV.
Penggajian Dan Pajak Gaji
Secara
periodik, pemberi kerja berkewajiban untuk memberikan gaji kepada karyawannya
atas jasa-jasa mereka yang telah dinikmati oleh perusahaan dalam rangka
menghasilkan pendapatan. Gaji dan upah yang dibayarkan kepada karyawan termasuk sebagai beban bagi
perusahaan.
Istilah
gaji biasanya dihitung berdasarkan tarif bulanan, bukan jam-jaman ataupun
harian. Sedangkan untuk upah biasanya dibayarkan berdasarkan hitungan jam,
harian, mingguan, atau kesatuan pekerjaan ( borongan).
Gaji
merupakan item yang sangat penting. Pemberi kerja harus membayar gaji kepada
karyawannya secara akurat dan tepat waktu. Karyawan sangat sensitif terhadap
gaji yang dibayarkan secara tidak akurat dan tepat waktu.gaji yang dibayarkan
secara tidak akurat dan tepat waktu akan menimbulkan keresahan bagi karyawan,
dan hal ini pada akhirnya dapat mempengaruhi atau menyebabkan menurunnya
tingkat produktivitas maupun loyalitas karyawan terhadap perusahaan.
Gaji dibagi menjadi 2 jenis, antara lain:
a) Gaji Bruto/Gaji kotor à Besarnya gaji pokok dan ditambah dengan
tunjangan-tunjangan, sebelum dikurangi potongan-potongan.
b) Gaji Bersih à Jumlah gaji bruto setelah dikurangi potongan-potongan.
Tunjangan-tunjangannya seperti tunjangan transportasi,
tunjangan makan, tunjangan keluarga atau nikah, dan tunjangan – tunjangan
lainnya. Bahkan, untuk karyawan yang bertugas dinas diluar kota selama beberapa
tahun biasanya akan diberikan tunjangan rumah dinas dan tunjangan cuti akhir tahun.
7
Untuk karyawan yang ditugaskan untuk melakukan perjalanan
dinas, biasanya akan diberikan tunjangan akoodasi dan uang saku.
Potongan-potongan yang mengurangi jumlah gaji
yang diterima oleh karyawan biasanya terdiri atas potongan untuk pajak
penghasilan dan jaminan social tenaga kerja (Jamsostek). Dalam kasus karyawan yang memperoleh
pinjaman dari pemberi kerja, maka nantinya setiap bulan gajinya akan dipotong
berupa angsuran pinjaman dalam rangka melunasi pinjamannya. Umumnya ( diluar
angsuran pinjaman), potongan terbesar merupakan potongan untuk pajak
penghasilan ( Pph pasal 21), dihitung dengan cara mengalihkan jumlah
penghasilan kena pajak dengan tarif pajak berlapis atau bertingkat yang telah
ditetapkan berdasarkan undang-undang. Sebagai contoh, katakanlah seorang
karyawan memiliki penghasilan kena pajak dalam setahun sebesar Rp. 118.000.000.
Tarif Pajak
Penghasilan (Pasal 21):
|
No
|
Lapisan Penghasilan
Kena Pajak
|
Jumlah
|
|
1
|
Dibawah Rp 50.000.000
|
5%
|
|
2
|
Diatas Rp 50.000.000 – Rp
250.000.000
|
15%
|
|
3
|
Diatas Rp 250.000.000 – Rp
500.000.000
|
25%
|
|
4
|
Diatas Rp 500.000.000
|
30%
|
Rp 118.000.000 x 15% = Rp 17.700.000 (PPh dalam setahun)
Penghasilan kena pajak untuk setahun
atau disetahunkan dihitung dengan cara mengurangkan penghasilan tidak kena
pajak ( PTKP) dari penghasilan neto. Dengan kata lain, penghasilan kena pajak
adalah penghasilan neto yang berada diatas penghasilan tidak kena pajak. Jumlah
penghasilan neto untuk penghitungan pph pasal 21 dihitung dengan cara
mengurangkan biaya jabatan dan iuran tunjangan hari tua dari jumlah penghasilan
bruto.
Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP) tahun 2018
|
No
|
Deskripsi
|
Jumlah
|
|
1
|
Wajib Pajak Orang Pribadi
|
Rp 54.000.000
|
|
2
|
Wajib Pajak (Menikah)
|
Rp 4.500.000
|
|
3
|
Anak (Maksimal 3)
|
Rp 4.500.000
|
|
4
|
Suami Istri bekerja
|
Rp 54.000.000
|
Penghasilan
tidak kena pajak merupakan biaya minimum wajib pajak beserta tanggungannya (
satu orang istri dan maksimum tiga orang anak ) untuk dapat hidup layak atau
dengan kata lain sebagai biaya minimum yang akan dikeluarkan oleh wajib pajak
yang bersangkutan ( dari sebagian penghasilannya) untuk dapat memenuhi
kebutuhan hidup minimal sehari-hari. Oleh sebab itu ,penghasilan tidak kena
pajak adalah sebagian dari penghasilan karyawan yang akan dipergunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup minimal sehari-hari (katakanlah untuk cukup makan dan
cukup rekreasi ), sehingga tidak layak untuk dikenakan pajak. Besarnya
penghasilan tidak kena pajak ditetapkan berdasarkan undang-undang.
8
V.
Akuntansi Penggajian
Kompensasi
karyawan berupa gaji dan tunjangan-tunjangan seringkali menimbulkan jumlah
kewajiban lancar yang cukup signifikan bagi perusahaan. Akuntansi untuk
penggajian meliputi lebih dari sekedar gaji kepada karyawan.dala merancang
sistem penggajian, semua ketentuan mengenai peraturan perpajakan atas
penggajian harus dipertimbangkan. Perusahaan biasanya secara tertib
administratif akan menyimpan seluruh catatan penggajian atas setiap karyawan
untuk setiap periode penggajian. Data penggajian ini secara berkala akan
dilaporkan ke kantor pelayanan pajak dimana perusahaan berdomisili. Sistem
penggajian harus dirancang untuk keperluan pembayaran gaji secara akurat dan
tepat waktu. Sistem penggajian juga dirancang untuk menyediakan data-data yang
berguna bagi kebutuhan pengambilan keputusan manajemen.
Ayat
jurnal yang diperlukan untut mencatat pembayaran gaji karyawan adalah:
|
Tanggal
|
Nama
Perkiraan
|
Debet
|
Kredit
|
|
27
– 01
|
Beban gaji
Utang
pajak penghasilan karyawan
Utang pajak jaminan sosial
Utang iuran pensiun
Piutang karyawan
Kas
|
xxx
|
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
|
Akun
beban gaji didebet dalam jurnal sebesar jumlah gaji bruto. Dalam jurnal diatas,
asumsi bahwa jumlah gaji bersih yang dibayarkan adalah besarnya gaji bruto
setelah dikurangi dengan potongan-potongan untuk pajak penghasilan, jamsostek,
iuran pensiun, dan angsuran pinjaman.
Pada
saat utang pajak penghasilan yang dipotong dan dipungut seluruhnya dari gaji
karyawan disetorkan ke kas negara, ayat jurnal yang akan dibuat adalah :
|
Nama
Perkiraan
|
Debet
|
Kredit
|
|
Utang
pajak penghasilan karyawan
Kas
|
xxx
|
Xxx
|
Pada
saat utang pajak jaminan sosial yang dipotong dan dipungut sebagian dari gaji
karyawan disetorkan ke lembaga jamsostek, ayat jurnal yang dibuat adalah :
|
Nama
Perkiraan
|
Debet
|
Kredit
|
|
Utang
pajak jaminan sosial
Kas
|
xxx
|
Xxx
|
9
Pada
saat utang iuran pensiun yang dipotong dan dipungut sebagian dari gaji karyawan
disetorkan ke lembaga dana pensiun, ayat jurnal yang akan dibuat adalah :
|
Nama
Perkiraan
|
Debet
|
Kredit
|
|
Utang
Iuran pensiun
Kas
|
xxx
|
xxx
|
Beban
pajak yang berkaitan dengan penggajian akan menjadi kewajiban bagi pemberi
kerja pada saat gaji dibayarkan kepada karyawan. Seperti telah dijelaskan
diatas, bahwa peberi kerja juga turut berkontribusi atas sebagian jaminan
sosial tenaga kerja dan iuran pensiun karyawan. Jurnal yang diperlukan untuk
mencatat beban pajak gaji adalah :
|
Tanggal
|
Nama
perkiraan
|
Debet
|
Kredit
|
|
27 Januari
|
Beban
pajak gaji
Utang pajak jaminan sosial
Utang iuran pension
|
xxx
|
Xxx
Xxx
|
VI.
Pengendalian Internal Atas Sistem Penggajian
Pengendalian
internal atas sistem penggajian diperlukan untuk menjamin agar pembayaran gaji
dapat dilakukan secara akurat dan tepat waktu serta tersedianya catatan akuntansi
yang memadai atas penggajian. Selain itu, sistem penggajian harus dapat
menyediakan pengamanan yang memadai terhadap tindakan pencurian, penyelewengan,
dan penyalahgunaan atas dana gaji.
Untuk
mencegah penyalahgunaan atas dana gaji, maka catatan daftar hadir karyawan
harus dapat dikendalikan dengan semestinya. Secara konvensional, catatan
kehadiran karyawan dapat diperoleh baik secara manual ataupun dengan Sistem
Elektronik seperti sidik jari dan kartu yang dimasukkan kedalam mesin
kehadiran.
10
Gaji sebaiknya dibayarkan kepada karyawan secara akurat
dan tepat waktu melalui penggunaan rekening khusus bank. Rekening khusus ini
dibuka dan digunakan oleh perusahaan hanya untuk tujuan pembayaran gaji
karyawan agar lebih efisien dalam pengelolaan dana gaji.
Aktivitas pengajian meliputi empat fungsi;
- Perekrutan karyawan
- Pencatatan jam kerja/kehadiran karyawan
- Menyiapkan dana gaji
- Pembayaran gaji
Bagian perekrutan bertanggungjawab dalam
mencarikan karyawan pengganti untuk menempatkan atau mengisi posisi pekerjaan
yang kosong. Setelah karyawan diterima kerja, bagian perekrutan akan menyiapkan
dokumen pengesahan (otorisasi). Dokumen pengesehan ini berisi data mengenai
karyawan baru akan dikirim ke bagian penggajian selanjutnya diinput dalam daftar
gaji. Data yang tercantum dalam dokumen pengesahan antara lain, nama karyawan,
tempat dan tanggal lahir, jenjang pendidikan, tanggal mulai bekerja, jabatan,
bagian pekerjaan, golongan gaji dan besar gaji karyawan.
Daftar gaji akan disiapkan oleh bagian penggajian
berdasarkan pada data yang tertera dalam dokumen pengesahan karyawan (dari
bagian perekrutan) dan data mengenai jumlah jam kerja atau kehadiran karyawan.
Bagian penggajian selanjutnya akan menghitung besar gaji bruto dan berserta
potongan-potongannya dan selanjutnya akan diberitahukan ke masing-,masing
karyawan. Gaji kemudian akan dibayarkan melalui bendahara gaji.
11
SOAL 1
PT. Mentari Food menerbitkan wesel bayar berbunga dalam
rangka menggantikan sementara utang usaha yang telah jatuh tempo, asumsi bahwa
periode akuntansi perusahaan adalah tahunan yang berakhir pada tanggal 31
Desember.
1 Maret Membeli barang dagangan seharga Rp
45.000.000 dengan syarat kredit 1/10, n/30. Sistem pencatatan persediaan yang
digunakan oleh perusahaan adalah sistem periodik
31 Maret Untuk menggantikan sementara utang usaha
yang telah jatuh tempo atas transaksi pembelian barang dagangan yang dilakukan
pada tanggal 1 Maret lalu, perusahaan menerbitkan wesel bayar dengan nilai
nominal sebesar Rp 45.000.000. wesel bayar ini berjangka waktu 45 hari dengan
tingkat suku bunga 10 % per tahun (Asumsi = 360 hari)
15 Mei Perusahaan melunasi utang wesel yang
telah jatuh tempo (yang diterbitkan pada tanggal 31 Maret lalu.
Diminta:
Buatlah semua ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat
transaksi-transaksi diatas dalam pembukuan PT. Mentari Food!
Pembahasan:
|
Tanggal
|
Nama Perkiraan
|
Debit
|
Kredit
|
|
1 Maret
31 Maret
15 Mei
|
Pembelian
Utang usaha
Utang usaha
Utang wesel
Utang wesel
Beban bunga*
Kas
*(45 hari/360
hari x 10% x 45 juta)
|
45.000.000
-
45.000.000
-
45.000.000
562.500
-
|
-
45.000.000
-
45.000.000
-
-
45.562.500
|
12
SOAL 2
Berikut ini adalah beberapa
transaksi yang telah terjadi sepanjang tahun 2009 pada PT. LINK BROWSE yang
menimbulkan kewajiban jangka pendek bagi perusahaan :
1.
Besarnya transaksi
penjualan tunai adalah Rp. 200.000.000. nilai ini belum termasuk pajak
penjualan yang dibebankan kepada pembeli sebesar 10%.
2.
PT. Link Browse
menyetorkan pajak penjualan tersebut ke Bank Intan selaku bank persepsi, yaitu
bank yang ditunjuk pemerintah untuk menampung sementara uang kas hasil
penerimaan pajak negara.
3.
Pada awal tahun 2009,
PT. Link Browse menerbitkan sebuah promes ( wesel bayar ) untuk mendapatkan
uang pinjaman dengan total senilai Rp. 250.000.000. lama wesel tersebut adalah
6 bulan, dengan tingkat suku bunga sebesar 9% per tahun. Pada saat wesel
tersebut jatuh tempo, perusahaan membayar nilai pokok pinjaman beserta bunganya
kepada kreditur.
4.
Berdasarkan pada
dasarnya klaim akrual yang telah terjadi di masa lampau, perusahaan
mengestimasi bahwa rata-rata biaya garansi atas setiap produk yang dijualnya
adalah sebesar 2% dari harga jual.
5.
Pada pertengahan tahun
2009 PT. Link Browse menerbitkan sebuah wesel bayar untuk menggantikan
sementara utang usahanya, karna telah melampaui batas waktu jatuh
tempo yang diberikan oleh supplier kepada PT.Link Browse untuk
melunasi hutangnya sebesar Rp. 40.000.000. tingkat diskonto yang berlaku pada
saat itu adalah 8% per tahun. Umur wesel yang disepakati antara PT.Link Browse
dengan suppliernya atas perpanjangan periode pembayaran utang usaha adalah 2
bulan. Pada saat wesel tersebut jatuh tempo, perusahaan membayar nilai pokok
pinjaman beserta bunganya kepada supplier.
Diminta :
Buatlah
seluruh ayat jurnal yang diperlukan dalam pembukuan PT.Link Browse Sepanjang
tahun 2009, sehubungan dengan transaksi-transaksi yang telah menimbulkan
kewajiban lancar bagi perusahaan !
13
Pembahasan :
|
No
|
Nama Perkiraan
|
Debet
|
Kredit
|
|
1.
|
Kas
Penjualan
Utang
pajak penjualan
|
Rp. 220.000.000
|
Rp. 200.000.000
Rp. 20.000.000
|
|
2.
|
Utang pajak penjualan
Kas
|
Rp. 20.000.000
|
Rp.20.000.000
|
|
3.
|
Kas
Utang
wesel
Utang wesel
Beban bunga
Kas
|
Rp. 250.000.000
Rp. 250.000.000
Rp. 11.250.000
|
Rp.250.000.000
Rp. 261.250.000
|
|
4.
|
Beban garansi produk
Utang
garansi produk
|
Rp. 4.000.000
|
Rp.4.000.000
|
|
5.
|
Utang usaha
Utang
wesel
Utang wesel
Beban bunga
Kas
|
Rp. 40.000.000
Rp. 40.000.000
Rp. 533.333
|
Rp. 40.000.000
Rp. 40. 533.333
|
14
SOAL 3:
Pak Roni bekerja
sebagai direktur perusahaan memiliki penghasilan kena pajak dalam setahun Rp
120.000.000. Hitunglah PPhnya!
Pembahasan:
Penghasilan kena pajak Rp 120.000.000
Tarif Pajak = Rp 120.000.000 x 15% = Rp
18.000.000 (dalam setahun)
Dalam sebulan = Rp 18.000.000 : 12 = Rp
1.200.000
SOAL 4:
Husin seorang karyawan swasta yang rajin. Setiap bulan ia
mendapatkan gaji sebesar Rp 12.000.000. Husin belum menikah. Hitunglah besarnya
PPh yang terutang dalam satu tahun pajak!
Pembahasan
:
Gaji satu tahun Husin = Rp 12.000.000 x 12
bulan = Rp 144.000.000
PTKP = Rp 54.000.000
Penghasilan kena pajak = Rp 114.000.000 – Rp
54.000.000 = Rp 60.000.000
Tarif Pajak = Rp 60.000.000 x 15% = Rp
9.000.000
Jadi, PPh yang harus dibayar Husin dalam
setahun Rp 9.000.000
SOAL 5:
Pak Asep adalah seorang guru PNS disebuah SMA Negeri di
Bekasi. Setiap bulan ia mendapatkan gaji sebesar Rp 6.500.000. Pak Asep sudah
menikah, memiliki istri dan memiliki 2 anak. Hitung besarnya PPh yang terutang
dalam satu tahun pajak !
Pembahasan
:
Gaji satu tahun Pak Asep = Rp 6.500.000 x 12
bulan = Rp 78.000.000
PTKP = Rp 54.000.000 + Rp 4.500.000 + (2 x Rp
4.500.000) = Rp 67.500.000
Penghasilan kena pajak = Rp 78.000.000 – Rp
67.500.000 = Rp 10.500.000
Tarif Pajak : Rp 10.500.000 x 5% = Rp 525.000
Jadi, PPh yang harus dibayar Pak Asep Rp
525.000
15
SOAL
6:
Budi pada tahun 2016 bekerja
pada perusahaan PT. Jaya dengan memperoleh gaji sebulan Rp 5.750.000, mendapat
tunjangan Rp 2.250.000, dan uang lembur Rp 1.500.000 juga, membayar biaya
jabatan sebesar 5%/bulan dari gaji bruto, membayar iuran jamsostek sebesar Rp 100.000/bulan, iuran pensiun
Rp 200.000/bulan dan PPh. Budi sudah menikah tetapi belum mempunyai anak.
Hitunglah gaji bersih Budi dalam setahun !
Pembahasan :
Gaji setahun
= Rp 5.750.000 x 12 = Rp 69.000.000
Tunjangan
= Rp 2.250.000 x 12 = Rp 27.000.000
Uang Lembur
= Rp 1.500.000 x 12 = Rp 18.000.000
Gaji Bruto setahun = Rp 69.000.000 + Rp 27.000.000 + Rp 18.000.000
= Rp
114.000.000
Biaya Jabatan = Rp
114.000.000 x 5% = Rp 5.700.000
Iuran Jamsostek = Rp 100.000 x 12 = Rp 1.200.000
Iuran Pensiun = Rp 200.000 x 12 = Rp 2.400.000
Jumlah Potongan = Rp 5.700.000 + Rp 1.200.000 + Rp 2.400.000 = Rp 9.300.000
PPh
Gaji Setelah Potongan = Rp 114.000.000 – Rp 9.300.000 = Rp 104.700.000
PTKP =
Rp 54.000.000 + Rp 4.500.000 = Rp 58.500.000
Penghasilan Kena Pajak = Rp 104.700.000 – Rp 58.500.000 = Rp 46.200.000
Tarif Pajak
= Rp 46.200.000 x 5% = Rp 2.310.000
Gaji Bersih = Rp 104.700.000 – Rp 2.310.000 = Rp
102.390.000
Jadi, gaji bersih Budi selama setahun adalah Rp 102.390.000
No comments:
Post a Comment