2.1
Dasar Persediaan
·
Persediaan
(Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup
penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan
industri (manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi,
hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli
bahan-bahan bangunan.
·
Persediaan
adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi
bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat
barang yang akan dijual.
Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan
jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan
barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu
persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang
jadi (siap untuk dijual).
Mengenai kepemilikan barang biasanya
ditentukan diawal transaksi jual beli berdasarkan perjanjian atas syarat-syarat
penjualan yang disepakati. Jika syarat penjualannya adalah franco gudang
penjualan maka barang keluar dari gudang penjual, barang tersebut bukan lagi
milik penjualan, tetapi menjadi milik dan tanggung jawab pembeli. Sedangkan
franco gudang pembelian maka kepemilikan barang akan beralih dari penjual ke
pembeli jika barang tersebut telah diterima atau sampai ke gudang pembeli.
Perusahaan dagang secara sistematis akan
menyelenggarakan catatan persediaan untuk menentukan beberapa besarnya barang
dagangan yang tersedia untuk dijual dan berapa yang telah laku terjual, maka
terdapat dua metode akuntansi yang dipakai dalam mencatat persediaan barang
dagangan, yaitu metode atau sistem pencatatan perpetual dan metode atau sistem
pencatatan periodik atau fisik. Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan
hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan
dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian
persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun
neraca.
Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan
(awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).
HPP = PERSEDIAAN AWAL + PEMBELIAN BERSIH – PERSEDIAAN AKHIR
a. Inventory perusahaan dagang
Persediaan merupakan barang-barang yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali dengan tanpa mengubah bentuk dan kualitas barang, atau dapat dikatakan tidak ada proses produksi sejak barang dibeli sampai dijual kembali oleh perusahaan.
b. Inventory perusahaan industry
Pengertian persediaan untuk perusahaan industri adalah barang-barang atau bahan yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang jadi atau setengah jadi atau mungkin menjadi bahan baku bagi perusahaan lain, hal ini tergantung dari jenis dan proses usaha utama perusahaan.
Misalnya
: Perusahaan industri permintaan kapas, bahan bakunya adalah kapas dari petani
atau perkebunan, diolah menjadi benang, benang merupakan barang jadi baginya.
Sedangkan perusahaan industri kain bahan bakunya adalah benang yang diolah
menjadi kain sebagai barang jadi, dan perusahaan industri pakaian jadi
membutuhkan bahan baku kain dan seterusnya.
Dengan
gambaran diatas maka persediaan untuk perusahaan-perusahaan manufaktur pada
umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
1.
Bahan
baku (direct material)
2.
Barang
dalam proses ( Work in proses)
3.
Barang
jadi (Finished goods)
2.2
Jenis-jenis
persediaan
a.
Bahan baku
Barang persediaan milik perusahaan
yang akan diolah lagi melalui proses produksi, sehingga akan menjadi barang
setengah jadi atau barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya
persediaan bahan baku dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman
produksi, dapat diandalkannya pihak Pemasok serta tingkat efisiensi penjadualan
pembelian dan kegiatan produksi.
b.
Barang dalam proses
Adalah barang yang masih memerlukan
proses produksi untuk menjadi barang jadi, sehingga persediaan barang dalam
proses sangat dipengaruhi oleh lamanya produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan
sejak saat bahan baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian
barang jadi. Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan jalan memperpendek
lamanya produksi. Dalam rangka memperpendek waktu produksi salah satu cara
adalah dengan menyempurnakan tekhnik-tekhnik rekayasa, sehingga dengan demikian
proses pengolahan bisa dipercepat. Cara laian adalah dengan membeli bahan-bahan
dan bukan membuatnya sendiri.
c.
Barang jadi
Adalah barang hasil proses produksi
dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada persediaan ini besar
kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi
produksi dan penjualan. Manajer keuangan dapat merangsang peningkatan penjualan
dengan cara mengubah persyaratan kredit atau dengan memberikan kredit untuk
resiko yang kecil (marginal risk). Tetapi tidak peduli apakah barang-barang
tercatat sebagai persediaan atau sebagai piutang dagang, manajer keuangan harus
tetap membiayainya. Sebenarnya perusahaan lebih suka menjualnya (dan tercatat sebagai
piutang dagang), karena dengan demikian untuk menuju realisasi kas tinggal satu
langkah saja. Dan laba potensial dapat menutup tambahan resiko penagihan
piutang.
Dari uraian tersebut dapat kita
artikan bahwa dalam proses akuntansi persediaan, persediaan memerlukan adanya
penilaian (valuation), karena persediaan merupakan bagian dari cost yang akan
dimatch dengan revenue, dan akan menghasilkan income dan penyajian laporan arus
kas.
Dengan melihat sifat-sifat dasar
persediaan dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan dan tujuan serta konsep
dasar akuntansi, maka persediaan merupakan input values. Metode tersebut
merupakan salah astu konsep penilaian terhadap inventory yang akan menjadi
dasar dalam penyajian di neraca.
Penekanan pembahasan tujuan teori akuntansi
terhadap inventory, adalah menentukan alternative pedoman untuk mengevaluasi
prosedur yang dapat memberikan penilaian (pengukuran) yang lebih baik dan
memberikan informasi yang lebih baik tentang arus kas perusahaan dikemudian
hari. Beberapa dasar pengukuran inventory dari segi kadar interpretasi dan
revaluasi bagi pengambil keputusan investasi.
2.3
Tujuan Penilaian Inventory
Pertama
adalah dalam upayanya untuk mematch cost terhadap revenue yang berkaitan,
sehingga dihasilkan income, proses ini merupakan tujuan dasar akuntansi
tradisional. Penekanan pada perhitungan net income yang didasarkan kepada
revenue pada saat penjualan memerlukan adanya alokasi biaya ke peiode dimana
revenue dilaporkan yaitu cost of goods sold. Sedangkan nilai inventory yang
belum terjual akan dibawa ke periode berikutnya dalam laporan keuangan
perusahaan. Jadi dalam proses pengukuran income sangat mirip dengan ciri-ciri
umum pada penilaian prepaid expense dan aktiva tetap atau disebut penangguhan
expenses, yaitu atas dasar input prices, kemudian untuk menentukan nilai cost
of goods sold dapat juga dilakukan melalui perhitungan (rumus) yang lazim
digunakan dalam persediaan. Namun demikian dalam keadaan tertentu persediaan
dinilai berdasarkan output values (harga jual) untuk memperoleh penilaian
income.
Tujuan kedua
pengukuran inventory lainnya adalah untuk menyajikan nilai barang-barang
perusahaan didalam komponen neraca (laporan keuangan).
Tujuan
ketiga pengukuran inventory adalah membantu investor untuk memprediksi arus kas
dikemudian hari, yaitu dipandang dari jumlah inventory sebagai resources yang
akan mendukung arus kas dan jumlah inventory yang akan dijual kemudian hari dan
akan mempengaruhi arus kas keluar.
2.4
Penentuan Kuantitas Persediaan
Untuk
menentukan jumlah barang yang masih dikuasai oleh perusahaan pada suatu saat
dapat ditentukan melalui beberapa cara yaitu:
1.
Stock opname: perhitungan barang pada awal dan akhir periode yang dihitung,
cara ini merupakan ketentuan yang harus dilakukan oleh manajemen untuk
menentukan jumlah persediaan akhir, sebagai salah satu persyaratan memperoleh
unqualified opinion.
2.
Menggunakan
metode pencatatan perpetual.
3.
Menggunakan
metode gabungan antara metode pencatatan perpetual dengan stock opname.
4.
Menggunakan
metode penilaian berdasarkan hubungan agregatif, yaitu gross profit method dan
realized inventory method.
Penyajian laporan laba rugi dapat
dibuat dalam dua bentuk, yaitu all inclusive concept of income (AICI) dan
current operating concept of income (COCI). Dari kedua metode tersebut metode
penyajian yang banyak mengandung kelemahan untuk penyajian persediaan adalah
AICI, kelemahan-kelemahan tersebut dapat kita lihat sbb:
a.
Metode stock opname atau periodic method:
Persediaan yang merupakan komponen cost of goods sold
(CGS) maka perhitungan kuantitas persediaan yang dilakukan dengan stock opname
tergantung dari kelengkapan data/catatan dan perhitungan barang. Dengan cara
ini perhitungan persediaan yang dibebankan pada CGS ada kemungkinan
overstatement, karena hanya membandingkan dan menghitung jumlah barang yang
dimiliki dikurangi dengan persediaan akhir. Sehingga kalau terjadi adanya
barang yang hilang, rusak, menguap, turun kualitasnya dsb, maka hal ini bila
tidak terungkap akan menyebabkan laporan laba – rugi tidak atau kurang informative.
Karena adanya kerugian-kerugian yang seharusnya diperlukan sebagai kerugian
extraordinary item, kemudian dengan perhitungan stock opname secara berkala
tidaklah cukup sebagai dasar pembuatan keputusan yang bersifat manajerial
secara cepat.
b.
Metode perpetual
Dalam metode perpetual ini terdapat kelemahan pada
saat menentukan nilai dan jumlah barang, karena dengan metode pencatatan yang
kontinyu ini berarti saldo persediaan setiap saat dapat diketahui, namun perlu
diperhatikan bahwa dengan hanya menghitung jumlah barang bedasarkan catatan
akan mengakibatkan nilai persediaan overstatement, karena adanya persediaan
yang rusak dsb. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam menentukan jumlah
inventory adalah kalau menggunakan metode gabungan antara metode perpetual
dengan stock opname.
c.
Metode agregatif
Dalam metode ini kesulitannya sama dengan kesulitan
yang dialami metode perpetual, kalau dalam hal pembahasannya adalah masalah
penentuan harga persediaan. Dalam metode ini juga lebih tepat kalau penentuan
jumlah dan nilai persediaan dikombinasi dengan stock opname.
Pengendalian meliputi langkah yang dilakukan oleh manajemen untuk
memperbesar kemungkinan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam tahap
perencanaan dan juga untuk memastikan bahwa seluruh bagian organisasi berfungsi
sebagai tujuan organisasi. Pengedalian internal persediaan bersifat:
a.
Pencegahan
(preventif), pengendalian pencegahan
dirancang untuk mencegah kesalahan atau kekeliruan pencatatan.
b.
Detektif,
ditujukan untuk mendeteksi kesalahan atau kekeliruan yang terjadi.
c.
Meningkatkan
efisiensi dengan melaksanakan kebijakan dan prosedur untuk melakukan
peningkatan yang mungkin dicapai.
Perusahaan harus selalu memonitor tingkat persediaan secara seksama
untuk membatasi biaya pembiayaan akibat banyaknya timbunan persediaan.
Perusahaan menggunakan salah satu dari dua jenis sistem agar pencatatan
persediaan tetap akurat sistem perpetual dan periodik.
·
Sistem
Perpetual
Sistem persediaan
perpetual (perpetual inventory system)
secara terus – menerus melacak perubahan akun persediaan. Yaitu, semua
pembelian dan penjualan (pengeluaran) barang dicatat secara langsung ke akun
Persediaan pada saat terjadi. Karakteristik dari sistem persediaan perpetual
yaitu:
·
Pembelian
barang dagang untuk dijual atau pembelian bahan baku untuk produksi didebet ke
Persediaan dan bukan ke Pembelian.
·
Biaya
transportasi masuk, retur pembelian dan pengurangan harga, serta diskon
pembelian didebet ke Persediaan dan bukan ke akun terpisah.
·
Harga
pokok penjualan diakui untuk setiap penjualan dengan mendebet akun. Harga Pokok
Penjualan, dan mengkredit Persediaan.
·
Persediaan
merupakan akun pengendali yang di dukung oleh buku besar pembantu yang berisi
catatan persediaan individual. Buku besar pembantu memperlihatkan kuantitas dan
biaya dari setiap jenis persediaan yang ada di tangan.
·
Sistem
Periodik
Sistem persediaan
periodik (periodic inventory system),
merupakan kuantitas persediaan di tangan ditentukan , seperti yang tersirat
oleh namanya, secara periodik. Semua pembelian persediaan selama periode
akuntansi dicatat dengan mendebet akun pembelian. Total akun pembelian pada
akhir periode akuntansi ditambahkan ke biaya persediaan di tangan pada awal
periode untuk menentukan total biaya barang yang tersedia untuk dijual selama
periode berjalan.
2.5
Masalah Mendasar Dalam Menilai
Persediaan
Biaya barang yang tersedia untuk dijual atau
digunakan adalah jumlah dari biaya barang yang ada di tangan awal periode dan
biaya barang yang dibeli atau diproduksi selama periode berjalan. Harga pokok
penjualan adalah perbedaan antara biaya barang yang tersedia untuk dijual
selama periode berjalan dan biaya barang yang ada di tangan pada akhir periode.
Penilaian persediaan bisa menjadi proses kompleks yang memerlukan penentuan
atas:
1.
Barang fisik yang dimasukkan dalam persediaan
·
Barang dalam Perjalanan
Akuntansi pada barang ini tergantung pada
siapa yang memiliki barang. Jika barang dikirimkan atas dasar f.o.b shipping point, makan hak
kepemilikan berpindah ke pembeli ketika penjual menyerahkan barang kepada
perusahaan pengangkut, yang bertindak sebagai pembeli. Jika barang dikirimkan
atas dasar f.o.b destination, maka
hak kepemilikan belum berpindah sampai pembeli menerima barang dari perusahaan
pengangkut.
·
Barang konsinyasi
Persediaan yang telah di konsinyasikan
ditunjukkan sebagai pos terpisah, tetapi kecuali jumlahnya besar, hal ini tidak
diperlukan. Kadang kala persediaan yang telah dikonsinyasikan dilaporkan dalam
catatan atas atas laporan keuangan. Pihak – pihak yang terlibat dalam penjualan
konsinyasi:
a.
Pengamat (consignor)
adalah pihak pemilik barang, sedangkan transaksi pengiriman barang dari pemilik
ke pihak komisioner disebut barang konsinyasi.
b.
Komisioner (consignee) yaitu pihak penerima barang dari pemilik barang,
sedangkan transaksi penerimaan barang dari pemilik ke pisah komisioner disebut
barang komisi.
·
Perjanjian
Penjualan Khusus
Tiga situasi penjualan khusus yang di dapatkan
di dunia praktik, yaitu penjualan dengan perjanjian beli kembali, penjualan
dengan tingkat retur yang tinggi, penjualan cicilan.
·
Pengaruh
kesalahan persediaan
Pengaruh kesalahan
persediaan, biasanya terjadi dengan dua kasus salah saji persediaan akhir dan
salah saji pembelian dan persediaan.
2.6
Biaya – Biaya Yang Harus Dimasukkan Dalam
Persediaan
Salah
satu masalah paling penting dalam menangani persediaan berhubungan dengan
berapa jumlah persediaan yang harus dicatat dalam akun. Pembelian (akuisisi) persediaan, seperti aktiva lain, umumnya
diperhitungkan atas dasar biaya.
·
Biaya Produk
Biaya produk (product costs)
adalah biaya-biaya yang “melekat” pada persediaan dan dicatat dalam akun
persediaan. Biaya-biaya ini berhubungan langsung dengan transfer barang ke
lokasi bisnis pembeli dan pengubahan barang tersebut ke kondisi yang siap
dijual. Beban seperti itu mencakup ongkos pengangkutan barang yang dibeli,
biaya pembelian langsung lainnya, dan biaya tenaga kerja serta produksi lainnya
yang dikeluarkan dalam memroses barang ketika dijual.
·
Biaya Periode
Biaya periode (period costs)
merupakan biaya-biaya yang terkait secara tidak langsung dengan akuisisi atau
produksi barang. Biaya-biaya periode seperti beban penjualan (selling expenses) dan dalam kondisi yang
biasa, beban umum serta administrasi (general and administrative expenses)
tidak dianggap sebagai bagian dari biaya persediaan. Biaya
bunga yang berhubungan dengan penyiapan persediaan agar siap dijual biasanya di
bebankan pada saat dikeluarkan. Arguman penting untuk pendekatan ini adalah
bahwa biaya bunga merupakan biaya pembiayaan.
·
Biaya manufaktur
Sebuah bisnis yang membuat barang mengunakan
persediaan bahan baku,barang dalam proses, dan barang jadi. Barang dalam proses
dan brang jadi meliputi bahan, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead
manufaktur. Biaya overhead manufaktur meliputi bahan tidak langsung,tenaga
kerja tidak langsung dan pos-pos seperti penyusutan , pajak,asuransi, pemanas,
dan listrik yang dibutuhkan dalam proses manufaktur.
·
Perlakuan atas Diskon Pembelian
Pemakaian akun Diskon Pembelian
(purchase discount) dalam sistem
persediaan periodik menunjukkan bahwa perusahaan melaporkan pembelian dan utang
usaha pada jumlah kotor. Jika perusahaan menggunakan metode kotor, maka diskon
pembelian dilaporkan sebagai pengurang dari akun pembelian di laporan
laba-rugi.
2.7
Asumsi Arus Biaya Apa Yang Harus Dipakai?
Selama setiap periode fiskal tertentu, besar
kemungkinan suatu barang akan dibeli dengan beberapa harga berbeda. Jika
persediaan akan dinilai pada biaya perolehan dan beberapa pembelian telah
dilakukan dengan biaya per unit yang berbeda,harga mana yang harus digunakan?
Secara konseptual, identifikasi khusus atas pos-pos yang terjual dan pos-pos
yang belum terjual terlihat optimal, tetapi cara ini seringkali tidak hanya
mahal tetapi juga tidak mungkin untuk diterapkan. Sebagai akibatnya, beberapa
asumsi arus biaya (cost flow asumption) yang bersifat sistematis dapat
digunakan.
Sebetulnya, arus fisik
barang aktual dan asumsi arus biaya seringkali sangat berbeda. Tidak ada keharusan bahwa asumsi arus biaya
yang dipakai terus konsisten dengan pergerakan fisik barang. Tujuan utama
dari pemilihan asumsi arus biaya adalah untuk memilih asumsi yang paling
mencerminkan laba periodik, sesuai kondisi yang berlaku.
a.
Identifikasi Khusus
Identifikasi khusus (specific identification) digunakan dengan cara mengidentifikasi
setiap barang yang dijual dan setiap barang dalam pos persediaan. Biaya
barang-barang yang telah terjual dimasukkan dalam harga pokok penjualan,
sementara biaya barang-barang khusus yang masih berada di tangan dimasukkan
pada persediaan. Metode ini hanya bisa digunakan dalam kondisi yang
memungkinkan perusahaan memisahkan pembelian yang berbeda yang telah dilakukan
secara fisik. Metode ini dapat diterapkan dengan baik dalam situasi yang
melibatkan sejumlah kecil item berharga tinggi dan dapat dibedakan. Dalam
industri ritel hal ini meliputi beberapa jenis perhiasan, jas bulu, mobil dan
sejumlah furnitur. Dalam area manufaktur, meliputi produk pesanan khusus dan
banyak produk yang diproduksi menurut job
cost system.
b.
Biaya Rata-rata
Seperti tersirat dalam namanya, metode biaya
rata-rata (average cost method)
menghitung harga pos-pos yang terdapat dalam persediaan atas dasar biaya
rata-rata barang yang sama yang tersedia selama suatu periode. Metode biaya
rata-rata yang lain adalah metode
rata-rata bergerak (moving average
method) yang digunakan dalam system persediaan perpetual.
Kelebihan
|
Kekurangan
|
Keuntungan
dan kelebihan metode berada diantara metode FIFO dan LIFO.
|
Keuntungan dan kelebihan metode berada diantara metode
FIFO dan LIFO.
|
c.
First-In, First-Out (FIFO)
Metode
FIFO mengasumsikan bahwa barang-barang digunakan
(dikeluarkan) sesuai urutan pembeliannya. Dengan kata lain, metode ini
mengasumsikan bahwa barang pertama yang
dibeli adalah barang pertama yang digunakan (dalam perusahaan manufaktur) atau dijual (dalam perusahaan dagang).
Karena itu, persediaan yang tersisa merupakan barang yang dibeli paling
terakhir.
Kelebihan
|
Kekurangan
|
Nilai
persediaan disajikan secara relevan di Laporan Posisi Keuangan
|
Pajak yang
dihasilkan menjadi lebih besar
|
Menghasilkan
laba yang lebih besar
|
Laba yang
dihasilkan kurang akurat
|
d.
Last-In, First-Out (LIFO)
Metode
LIFO menandingkan (matches) biaya dari barang-barang yang paling akhir dibeli terhadap
pendapatan. Jika yang digunakan adalah persediaan periodic, maka akan
diasumsikan bahwa biaya dari total
kuantitas yang terjual atau dikeluarkan selama suatu bulan berasal dari
pembelian paling akhir.
Kelebihan
|
Kekurangan
|
Bisa
menghemat pajak ketika inflasi
|
Metode ini
lebih rumit, biaya pembukuan menjadi lebih mahal
|
Laba rugi
yang dihasilkan lebih rendah
|
2.8 Dasar Pemilihan Metode Persediaaan
Bagaimana
memilih salah satu di antara berbagai persediaan? Walaupun tidak ada aturan
yang absolut untuk itu, namun kecenderungan untuk memilih LIFO biasanya dapat
disebabkan oleh kondisi-kondisi berikut :
1.
Harga jual dan pendapatan telah meningkat lebih
cepat disbanding biaya, sehingga mendistorsi laba.
2.
Dalam situasi di mana LIFO sudah menjadi tradisi.
Sebaliknya,
LIFO mungkin tidak akan tepat dalam situasi di mana :
1.
Harga cenderung menurun terhadap biaya.
2.
Pemakaian metode identifikasi khusus sudah merupakan tradisi.
3. Biaya per unit cenderung menurun seiring dengan meningkatnya
produksi.
2.9 Kesalahan dalam perhitungan persediaan
Persediaan akhir di priode berjalan
akan secara otomatis menjadi persediaan awal di tahun berikutnya. Kesalahan
yang terjadi dalam melakukan perhitungan atas persediaan akan mempengaruhi baik
neraca atau laporan karna persediaan merupakan aset lancar,maka besarnya aset
lancar maupun total aset perusahaan secara keseluruhan juga akan menjadi salah
saji di neraca efeknya terhadap harga pokok penjualan dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut ;
Persediaan awal + harga pokok
pembelian – persediaan akhir = harga pokok penjualan
Efeknya terhadap laba kotor dapat
ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut;
Penjualan bersih – harga pokok
penjualan = laba kotor
Sedangkan efeknya terhadap laba
bersih dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut;
Laba kotor – beban operasional +/-
pendapatan ( beban ) lain-lain = laba bersih
Sebagai
ilustrasi ,misalkan berdasarkan perhitungan fisik atas persediaan yang
dilakukan pada tanggal 31 desember 2018, perusahaan keliru mencatat sebesar
Rp.452.000.000 ,-,padahal jumlah seharusnya Rp 475.000.000,-. Kesalahan
pencatatan ini menyebabkan besar persediaan akhir, aset lancar, dan total aset
dineraca menjadi kekecilan sebesar Rp 23.000.000 karna nilai persediaan akhir
kekecilan ,maka harga pokok penjualan dalam laporan laba rugi akan menjadi
kebesaran Rp 23.000.000 sejak laba bersih ditutup keperkiraan modal,maka besar
modal dalam neraca per tanggal 31 desember 2018 akan menjadi kekecilan Rp
23.000.000 efeknya terhadap laporan keuangan perusahaan sebagai berikut ;
Neraca :
Persediaan
akhir kekecilan Rp.
(23.000.000),-
Aset
lancar kekecilan Rp.
(23.000.000),-
Total
aset kekecilan Rp.
(23.000.000),-
Modal
kekecilan Rp.
(23.000.000),-
Laporan Laba Rugi :
Harga
pokok penjualan kebesaran Rp. 23.000.000,-
Laba
kotor kekecilan Rp.
(23.000.000),-
Sekarang sebaliknya, misalkan berdasarkan perhitungan fisik atas persediaan
pada tanggal 31 Desember 2018, perusahaan telah keliru mencatatnya sebesar Rp.
475.000.000,- , padahal jumlah yang benar adalah Rp. 452.000.000,- . kesalahan
dalam pencatatan menyebabkan besar persediaan akhir, aset lancar, dan total
aset di neraca menjadi kebesaran Rp.23.000.000,-.
Karna nilai persediaan akhir kebesaran maka harga pokok penjualan menjadi
kekecilan Rp. 23.000.000,-. Pada akhirnya laba kotor dan laba bersih menjadi
kebesaran Rp.23.000.000,- . sejak laba bersih ditutup ke akun modal, maka besar
modal yang disajikan di neraca per tanggal 31 Desember 2018 akan kebesaran
Rp.23.000.000,-. Efeknya terhadap laporan keuangan perusahaan akan diringkas
sebagai berikut :
Neraca :
Persediaan
akhir kebesaran Rp.
23.000.000,-
Aset
lancar kebesaran Rp.
23.000.000,-
Total
aset kebesaran Rp.
23.000.000,-
Modal
kebesaran Rp.
23.000.000,-
Laporan Laba Rugi :
Harga
pokok penjualan kekecilan Rp.
(23.000.000),-
Laba
kotor kebesaran Rp.
23.000.000,-
Contoh Soal
1
PT. Saburai melakukan perlakuan (pembelian, penjualan)
persediaan pada tahun 2018 adalah sebagai berikut :
Tanggal
|
Keterangan
|
Kuantitas
|
Harga
|
2 Januari
|
Persediaan Awal
|
200 unit
|
Rp. 9000
|
10 Maret
|
Pembelian
|
300 unit
|
Rp. 10.000
|
5 April
|
Penjualan
|
200 unit
|
Rp. 15.000
|
7 Mei
|
Penjualan
|
100 unit
|
Rp. 15.000
|
21 September
|
Pembelian
|
400 unit
|
Rp. 11.000
|
18 November
|
Pembelian
|
100 unit
|
Rp. 12.000
|
20 November
|
Penjualan
|
200 unit
|
Rp. 17.000
|
10 Desember
|
Penjualan
|
200 unit
|
Rp.18.000
|
Diminta :
1.
Hitunglah nilai persediaan akhir Sistem perpetual dengan metode FIFO,
LIFO dan Average
2.
Hitung Laba Kotor dan Harga Pokok Penjualan
1. FIFO (First in first out )
Tanggal
|
Pembeliaan
|
Harga
Pokok Penjualan
|
Persediaan
|
||||||
Unit
|
Harga
/unit
|
Total
harga
|
Unit
|
Harga
/unit
|
Total
harga
|
Unit
|
Harga
/unit
|
Total
harga
|
|
02/jan
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
200
|
9.000
|
1.800.000
|
10/mar
|
300
-
|
10.000
-
|
3.000.000
-
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
200
300
|
9.000
10.000
|
1.800.000
3.000.000
|
5/apr
|
-
|
-
|
-
|
200
|
9.000
|
1.800.000
|
300
|
10.000
|
3.000.000
|
7/mei
|
-
|
-
|
-
|
100
|
10.000
|
1.000.000
|
200
|
10.000
|
2.000.000
|
21/sep
|
400
|
11.000
|
4.400.000
|
-
|
-
|
-
|
200
400
|
10.000
11.000
|
2.000.000
4.400.000
|
18/nov
|
100
|
12.000
|
1.200.000
|
-
|
-
|
-
|
200
400
100
|
10.000
11.000
12.000
|
2.000.000
4.400.000
1.200.000
|
20/nov
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
200
-
|
10.000
-
|
2.000.000
-
|
400
100
|
11.000
12.000
|
4.400.000
1.200.000
|
10/des
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
200
-
|
11.000
-
|
2.200.000
-
|
200
100
|
11.000
12.000
|
2.200.000
1.200.000
|
Total
|
800
|
-
|
8.600.000
|
700
|
-
|
7.000.000
|
300
|
-
|
3.400.000
|
2. LIFO (Last in First out)
Tanggal
|
Pembeliaan
|
Harga
Pokok Penjualan
|
Persediaan
|
||||||
Unit
|
Harga
/unit
|
Total
harga
|
Unit
|
Harga
/unit
|
Total
harga
|
Unit
|
Harga
/unit
|
Total
harga
|
|
02/jan
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
200
|
9.000
|
1.800.000
|
10/mar
|
300
-
|
10.000
-
|
3.000.000
-
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
200
300
|
9.000
10.000
|
1.800.000
3.000.000
|
5/apr
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
200
-
|
10.000
-
|
2.000.000
-
|
200
100
|
9.000
10.000
|
1.800.000
1.000.000
|
7/apr
|
-
|
-
|
-
|
100
|
10.000
|
1.000.000
|
200
|
9.000
|
1.800.000
|
21/sep
|
400
-
|
11.000
-
|
4.400.000
-
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
200
400
|
9.000
11.000
|
1.800.000
4.400.000
|
18/nov
|
100
-
-
|
12.000
-
-
|
1.200.000
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
200
400
100
|
9.000
11.000
12.000
|
1.800.000
4.400.000
1.200.000
|
20/nov
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
100
100
|
12.000
11.000
|
1.200.000
1.100.000
|
200
300
|
9.000
11.000
|
1.800.000
3.300.000
|
10/des
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
200
-
|
11.000
-
|
2.200.000
-
|
200
100
|
9.000
11.000
|
1.800.000
1.100.000
|
Total
|
800
|
-
|
8.600.000
|
700
|
-
|
7.500.000
|
300
|
-
|
2.900.000
|
3. Average (Rata-Rata)
Tanggal
|
Pembeliaan
|
Harga
Pokok Penjualan
|
Persediaan
|
||||||
Unit
|
Harga
/unit
|
Total
harga
|
Unit
|
Harga
/unit
|
Total
harga
|
Unit
|
Harga
/unit
|
Total
harga
|
|
02/jan
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
200
|
9.000
|
1.800.000
|
10/mar
|
300
|
10.000
|
3.000.000
|
-
|
-
|
-
|
500
|
9.600
|
4.800.000
|
5/apr
|
-
|
-
|
-
|
200
|
9.600
|
1.920.000
|
300
|
9.600
|
2.880.000
|
7/mei
|
-
|
-
|
-
|
100
|
9.600
|
1.960.000
|
200
|
9.600
|
1.920.000
|
21/sep
|
400
|
11.000
|
4.400.000
|
-
|
-
|
-
|
600
|
10.530
|
6.320.000
|
18/nov
|
100
|
12.000
|
1.200.000
|
-
|
-
|
-
|
700
|
10.740
|
7.520.000
|
20/nov
|
-
|
-
|
-
|
200
|
10.740
|
2.148.000
|
500
|
10.740
|
5.370.000
|
10/des
|
-
|
-
|
-
|
200
|
10.740
|
2.148.000
|
300
|
10.740
|
3.222.000
|
Total
|
800
|
-
|
8.600.000
|
700
|
-
|
8.176.000
|
300
|
-
|
3.222.000
|
4. Harga Pokok Penjualan
A.
Sistem Periodik
FIFO
|
LIFO
|
AVERAGE
|
|
Persediaan
Awal
|
1.800.000
|
1.800.000
|
1.800.000
|
Pembelian
|
8.600.000
|
8.600.000
|
8.600.000
|
Barang
tersedia
Untuk
dijual
|
10.400.000
|
10.400.000
|
10.400.000
|
Persediaan
Akhir
|
(3.400.000)
|
(2.900.000)
|
(3.222.000)
|
Harga
Pokok
Penjualan
|
7.000.000
|
7.500.000
|
7.178.000
|
B.
Sistem Perpetual
FIFO
|
LIFO
|
AVERAGE
|
|
Persediaan
Awal
|
1.800.000
|
1.800.000
|
1.800.000
|
Pembelian
|
8.600.000
|
8.600.000
|
8.600.000
|
Barang
tersedia
Untuk
dijual
|
10.400.000
|
10.400.000
|
10.400.000
|
Persediaan
Akhir
|
(3.400.000)
|
(2.900.000)
|
(3.222.000)
|
Harga
Pokok
Penjualan
|
7.000.000
|
7.500.000
|
7.178.000
|
5. Laba Kotor
A.
Sistem Periodik
FIFO
|
LIFO
|
AVERAGE
|
|
Penjualan
|
11.500.000
|
11.500.000
|
11.500.000
|
Harga
Pokok
Penjualan
|
(7.000.000)
|
(7.500.000)
|
(7.178.000)
|
Laba
Kotor
|
4.500.000
|
4.000.000
|
4.322.000
|
B. Sistem
Perpetual
FIFO
|
LIFO
|
AVERAGE
|
|
Penjualan
|
11.500.000
|
11.500.000
|
11.500.000
|
Harga
Pokok
Penjualan
|
(7.000.000)
|
(7.500.000)
|
(7.178.000)
|
Laba
Kotor
|
4.500.000
|
4.000.000
|
4.322.000
|
6. Jurnalnya
A.
Periodik (FIFO)
Saat Mencatat Pembelian:
Saat Mencatat Pembelian:
Pembelian
|
Rp. 8.600.000
|
Utang usaha/Kas
|
Rp.
8.600.000
|
Saat Mencatat Penjualan:
Piutang Usaha/Kas
|
Rp. 11.500.000
|
Penjualan
|
Rp.
11.500.000
|
Saat Penyesuaian untuk Persediaan:
Ikhtisar Rugi Laba
|
Rp. 1.800.000
|
Persediaan
|
Rp.
1.800.000
|
Persediaan
|
Rp. 3.400.000
|
Ikhtisar Rugi
Laba
|
Rp.
3.400.000
|
B.
Perpetual (FIFO)
Saat Mencatat Pembelian:
Persediaan
|
Rp. 8.600.000
|
Utang Usaha/Kas
|
Rp. 8.600.000
|
Saat Mencatat Penjualan:
Piutang Usaha
|
Rp. 11.500.000
|
Penjualan
|
Rp.
11.500.000
|
Harga Pokok Penjualan
|
Rp. 7.000.000
|
Persediaan
|
Rp.
7.000.000
|
No comments:
Post a Comment