Tuesday, January 22, 2019

MATERI KELOMPOK 9

 2.1      Dasar Persediaan
·            Persediaan (Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri (manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahan-bahan bangunan.
·            Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual.
Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).

Mengenai kepemilikan barang biasanya ditentukan diawal transaksi jual beli berdasarkan perjanjian atas syarat-syarat penjualan yang disepakati. Jika syarat penjualannya adalah franco gudang penjualan maka barang keluar dari gudang penjual, barang tersebut bukan lagi milik penjualan, tetapi menjadi milik dan tanggung jawab pembeli. Sedangkan franco gudang pembelian maka kepemilikan barang akan beralih dari penjual ke pembeli jika barang tersebut telah diterima atau sampai ke gudang pembeli.

Perusahaan dagang secara sistematis akan menyelenggarakan catatan persediaan untuk menentukan beberapa besarnya barang dagangan yang tersedia untuk dijual dan berapa yang telah laku terjual, maka terdapat dua metode akuntansi yang dipakai dalam mencatat persediaan barang dagangan, yaitu metode atau sistem pencatatan perpetual dan metode atau sistem pencatatan periodik atau fisik. Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan. Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan Rugi/Laba maupun neraca.

Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP).
     HPP  =  PERSEDIAAN AWAL +  PEMBELIAN BERSIH  – PERSEDIAAN AKHIR
a. Inventory perusahaan dagang

Persediaan merupakan barang-barang yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali dengan tanpa mengubah bentuk dan kualitas barang, atau dapat dikatakan tidak ada proses produksi sejak barang dibeli sampai dijual kembali oleh perusahaan.
b. Inventory perusahaan industry

Pengertian persediaan untuk perusahaan industri adalah barang-barang atau bahan yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang jadi atau setengah jadi atau mungkin menjadi bahan baku bagi perusahaan lain, hal ini tergantung dari jenis dan proses usaha utama perusahaan.
Misalnya : Perusahaan industri permintaan kapas, bahan bakunya adalah kapas dari petani atau perkebunan, diolah menjadi benang, benang merupakan barang jadi baginya. Sedangkan perusahaan industri kain bahan bakunya adalah benang yang diolah menjadi kain sebagai barang jadi, dan perusahaan industri pakaian jadi membutuhkan bahan baku kain dan seterusnya.
Dengan gambaran diatas maka persediaan untuk perusahaan-perusahaan manufaktur pada umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
1.          Bahan baku (direct material)
2.          Barang dalam proses ( Work in proses)
3.          Barang jadi (Finished goods)

2.2      Jenis-jenis persediaan
a.          Bahan baku
Barang persediaan milik perusahaan yang akan diolah lagi melalui proses produksi, sehingga akan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya persediaan bahan baku dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat diandalkannya pihak Pemasok serta tingkat efisiensi penjadualan pembelian dan kegiatan produksi.

b.         Barang dalam proses
Adalah barang yang masih memerlukan proses produksi untuk menjadi barang jadi, sehingga persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh lamanya produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian barang jadi. Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan jalan memperpendek lamanya produksi. Dalam rangka memperpendek waktu produksi salah satu cara adalah dengan menyempurnakan tekhnik-tekhnik rekayasa, sehingga dengan demikian proses pengolahan bisa dipercepat. Cara laian adalah dengan membeli bahan-bahan dan bukan membuatnya sendiri.

c.          Barang jadi
Adalah barang hasil proses produksi dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada persediaan ini besar kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi produksi dan penjualan. Manajer keuangan dapat merangsang peningkatan penjualan dengan cara mengubah persyaratan kredit atau dengan memberikan kredit untuk resiko yang kecil (marginal risk). Tetapi tidak peduli apakah barang-barang tercatat sebagai persediaan atau sebagai piutang dagang, manajer keuangan harus tetap membiayainya. Sebenarnya perusahaan lebih suka menjualnya (dan tercatat sebagai piutang dagang), karena dengan demikian untuk menuju realisasi kas tinggal satu langkah saja. Dan laba potensial dapat menutup tambahan resiko penagihan piutang.
Dari uraian tersebut dapat kita artikan bahwa dalam proses akuntansi persediaan, persediaan memerlukan adanya penilaian (valuation), karena persediaan merupakan bagian dari cost yang akan dimatch dengan revenue, dan akan menghasilkan income dan penyajian laporan arus kas.
Dengan melihat sifat-sifat dasar persediaan dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan dan tujuan serta konsep dasar akuntansi, maka persediaan merupakan input values. Metode tersebut merupakan salah astu konsep penilaian terhadap inventory yang akan menjadi dasar dalam penyajian di neraca.
Penekanan pembahasan tujuan teori akuntansi terhadap inventory, adalah menentukan alternative pedoman untuk mengevaluasi prosedur yang dapat memberikan penilaian (pengukuran) yang lebih baik dan memberikan informasi yang lebih baik tentang arus kas perusahaan dikemudian hari. Beberapa dasar pengukuran inventory dari segi kadar interpretasi dan revaluasi bagi pengambil keputusan investasi.
2.3      Tujuan Penilaian Inventory
Pertama adalah dalam upayanya untuk mematch cost terhadap revenue yang berkaitan, sehingga dihasilkan income, proses ini merupakan tujuan dasar akuntansi tradisional. Penekanan pada perhitungan net income yang didasarkan kepada revenue pada saat penjualan memerlukan adanya alokasi biaya ke peiode dimana revenue dilaporkan yaitu cost of goods sold. Sedangkan nilai inventory yang belum terjual akan dibawa ke periode berikutnya dalam laporan keuangan perusahaan. Jadi dalam proses pengukuran income sangat mirip dengan ciri-ciri umum pada penilaian prepaid expense dan aktiva tetap atau disebut penangguhan expenses, yaitu atas dasar input prices, kemudian untuk menentukan nilai cost of goods sold dapat juga dilakukan melalui perhitungan (rumus) yang lazim digunakan dalam persediaan. Namun demikian dalam keadaan tertentu persediaan dinilai berdasarkan output values (harga jual) untuk memperoleh penilaian income.
Tujuan kedua pengukuran inventory lainnya adalah untuk menyajikan nilai barang-barang perusahaan didalam komponen neraca (laporan keuangan).
Tujuan ketiga pengukuran inventory adalah membantu investor untuk memprediksi arus kas dikemudian hari, yaitu dipandang dari jumlah inventory sebagai resources yang akan mendukung arus kas dan jumlah inventory yang akan dijual kemudian hari dan akan mempengaruhi arus kas keluar.

2.4      Penentuan Kuantitas Persediaan
Untuk menentukan jumlah barang yang masih dikuasai oleh perusahaan pada suatu saat dapat ditentukan melalui beberapa cara yaitu:
1.          Stock opname: perhitungan barang pada awal dan akhir periode yang dihitung, cara ini merupakan ketentuan yang harus dilakukan oleh manajemen untuk menentukan jumlah persediaan akhir, sebagai salah satu persyaratan memperoleh unqualified opinion.
2.          Menggunakan metode pencatatan perpetual.
3.          Menggunakan metode gabungan antara metode pencatatan perpetual dengan stock opname.
4.          Menggunakan metode penilaian berdasarkan hubungan agregatif, yaitu gross profit method dan realized inventory method.
Penyajian laporan laba rugi dapat dibuat dalam dua bentuk, yaitu all inclusive concept of income (AICI) dan current operating concept of income (COCI). Dari kedua metode tersebut metode penyajian yang banyak mengandung kelemahan untuk penyajian persediaan adalah AICI, kelemahan-kelemahan tersebut dapat kita lihat sbb:
a.          Metode stock opname atau periodic method:
Persediaan yang merupakan komponen cost of goods sold (CGS) maka perhitungan kuantitas persediaan yang dilakukan dengan stock opname tergantung dari kelengkapan data/catatan dan perhitungan barang. Dengan cara ini perhitungan persediaan yang dibebankan pada CGS ada kemungkinan overstatement, karena hanya membandingkan dan menghitung jumlah barang yang dimiliki dikurangi dengan persediaan akhir. Sehingga kalau terjadi adanya barang yang hilang, rusak, menguap, turun kualitasnya dsb, maka hal ini bila tidak terungkap akan menyebabkan laporan laba – rugi tidak atau kurang informative. Karena adanya kerugian-kerugian yang seharusnya diperlukan sebagai kerugian extraordinary item, kemudian dengan perhitungan stock opname secara berkala tidaklah cukup sebagai dasar pembuatan keputusan yang bersifat manajerial secara cepat.
b.         Metode perpetual
Dalam metode perpetual ini terdapat kelemahan pada saat menentukan nilai dan jumlah barang, karena dengan metode pencatatan yang kontinyu ini berarti saldo persediaan setiap saat dapat diketahui, namun perlu diperhatikan bahwa dengan hanya menghitung jumlah barang bedasarkan catatan akan mengakibatkan nilai persediaan overstatement, karena adanya persediaan yang rusak dsb. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam menentukan jumlah inventory adalah kalau menggunakan metode gabungan antara metode perpetual dengan stock opname.
c.          Metode agregatif
Dalam metode ini kesulitannya sama dengan kesulitan yang dialami metode perpetual, kalau dalam hal pembahasannya adalah masalah penentuan harga persediaan. Dalam metode ini juga lebih tepat kalau penentuan jumlah dan nilai persediaan dikombinasi dengan stock opname.

Pengendalian meliputi langkah yang dilakukan oleh manajemen untuk memperbesar kemungkinan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan dan juga untuk memastikan bahwa seluruh bagian organisasi berfungsi sebagai tujuan organisasi. Pengedalian internal persediaan bersifat:
a.          Pencegahan (preventif), pengendalian pencegahan dirancang untuk mencegah kesalahan atau kekeliruan pencatatan.
b.          Detektif, ditujukan untuk mendeteksi kesalahan atau kekeliruan yang terjadi.
c.          Meningkatkan efisiensi dengan melaksanakan kebijakan dan prosedur untuk melakukan peningkatan yang mungkin dicapai.
Perusahaan harus selalu memonitor tingkat persediaan secara seksama untuk membatasi biaya pembiayaan akibat banyaknya timbunan persediaan. Perusahaan menggunakan salah satu dari dua jenis sistem agar pencatatan persediaan tetap akurat sistem perpetual dan periodik.
·            Sistem Perpetual
Sistem persediaan perpetual (perpetual inventory system) secara terus – menerus melacak perubahan akun persediaan. Yaitu, semua pembelian dan penjualan (pengeluaran) barang dicatat secara langsung ke akun Persediaan pada saat terjadi. Karakteristik dari sistem persediaan perpetual yaitu:
·            Pembelian barang dagang untuk dijual atau pembelian bahan baku untuk produksi didebet ke Persediaan dan bukan ke Pembelian.
·            Biaya transportasi masuk, retur pembelian dan pengurangan harga, serta diskon pembelian didebet ke Persediaan dan bukan ke akun terpisah.
·            Harga pokok penjualan diakui untuk setiap penjualan dengan mendebet akun. Harga Pokok Penjualan, dan mengkredit Persediaan.
·            Persediaan merupakan akun pengendali yang di dukung oleh buku besar pembantu yang berisi catatan persediaan individual. Buku besar pembantu memperlihatkan kuantitas dan biaya dari setiap jenis persediaan yang ada di tangan.
·            Sistem Periodik
Sistem persediaan periodik (periodic inventory system), merupakan kuantitas persediaan di tangan ditentukan , seperti yang tersirat oleh namanya, secara periodik. Semua pembelian persediaan selama periode akuntansi dicatat dengan mendebet akun pembelian. Total akun pembelian pada akhir periode akuntansi ditambahkan ke biaya persediaan di tangan pada awal periode untuk menentukan total biaya barang yang tersedia untuk dijual selama periode berjalan.

2.5      Masalah Mendasar Dalam Menilai Persediaan
Biaya barang yang tersedia untuk dijual atau digunakan adalah jumlah dari biaya barang yang ada di tangan awal periode dan biaya barang yang dibeli atau diproduksi selama periode berjalan. Harga pokok penjualan adalah perbedaan antara biaya barang yang tersedia untuk dijual selama periode berjalan dan biaya barang yang ada di tangan pada akhir periode. Penilaian persediaan bisa menjadi proses kompleks yang memerlukan penentuan atas:
1.          Barang fisik yang dimasukkan dalam persediaan
·            Barang dalam Perjalanan
Akuntansi pada barang ini tergantung pada siapa yang memiliki barang. Jika barang dikirimkan atas dasar f.o.b shipping point, makan hak kepemilikan berpindah ke pembeli ketika penjual menyerahkan barang kepada perusahaan pengangkut, yang bertindak sebagai pembeli. Jika barang dikirimkan atas dasar f.o.b destination, maka hak kepemilikan belum berpindah sampai pembeli menerima barang dari perusahaan pengangkut.
·            Barang konsinyasi
Persediaan yang telah di konsinyasikan ditunjukkan sebagai pos terpisah, tetapi kecuali jumlahnya besar, hal ini tidak diperlukan. Kadang kala persediaan yang telah dikonsinyasikan dilaporkan dalam catatan atas atas laporan keuangan. Pihak – pihak yang terlibat dalam penjualan konsinyasi:
a.          Pengamat (consignor) adalah pihak pemilik barang, sedangkan transaksi pengiriman barang dari pemilik ke pihak komisioner disebut barang konsinyasi.
b.          Komisioner (consignee) yaitu pihak penerima barang dari pemilik barang, sedangkan transaksi penerimaan barang dari pemilik ke pisah komisioner disebut barang komisi.
·            Perjanjian Penjualan Khusus
Tiga situasi penjualan khusus yang di dapatkan di dunia praktik, yaitu penjualan dengan perjanjian beli kembali, penjualan dengan tingkat retur yang tinggi, penjualan cicilan.
·            Pengaruh kesalahan persediaan
Pengaruh kesalahan persediaan, biasanya terjadi dengan dua kasus salah saji persediaan akhir dan salah saji pembelian dan persediaan.

2.6      Biaya – Biaya Yang Harus Dimasukkan Dalam Persediaan
Salah satu masalah paling penting dalam menangani persediaan berhubungan dengan berapa jumlah persediaan yang harus dicatat dalam akun. Pembelian (akuisisi) persediaan, seperti aktiva lain, umumnya diperhitungkan atas dasar biaya.

·            Biaya Produk
Biaya produk (product costs) adalah biaya-biaya yang “melekat” pada persediaan dan dicatat dalam akun persediaan. Biaya-biaya ini berhubungan langsung dengan transfer barang ke lokasi bisnis pembeli dan pengubahan barang tersebut ke kondisi yang siap dijual. Beban seperti itu mencakup ongkos pengangkutan barang yang dibeli, biaya pembelian langsung lainnya, dan biaya tenaga kerja serta produksi lainnya yang dikeluarkan dalam memroses barang ketika dijual.
·            Biaya Periode
Biaya periode (period costs) merupakan biaya-biaya yang terkait secara tidak langsung dengan akuisisi atau produksi barang. Biaya-biaya periode seperti beban penjualan (selling expenses) dan dalam kondisi yang biasa, beban umum serta administrasi (general and administrative expenses) tidak dianggap sebagai bagian dari biaya persediaan. Biaya bunga yang berhubungan dengan penyiapan persediaan agar siap dijual biasanya di bebankan pada saat dikeluarkan. Arguman penting untuk pendekatan ini adalah bahwa biaya bunga merupakan biaya pembiayaan.
·            Biaya manufaktur
Sebuah bisnis yang membuat barang mengunakan persediaan bahan baku,barang dalam proses, dan barang jadi. Barang dalam proses dan brang jadi meliputi bahan, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead manufaktur. Biaya overhead manufaktur meliputi bahan tidak langsung,tenaga kerja tidak langsung dan pos-pos seperti penyusutan , pajak,asuransi, pemanas, dan listrik yang dibutuhkan dalam proses manufaktur.
·            Perlakuan atas Diskon Pembelian
Pemakaian akun Diskon Pembelian (purchase discount) dalam sistem persediaan periodik menunjukkan bahwa perusahaan melaporkan pembelian dan utang usaha pada jumlah kotor. Jika perusahaan menggunakan metode kotor, maka diskon pembelian dilaporkan sebagai pengurang dari akun pembelian di laporan laba-rugi.
2.7      Asumsi Arus Biaya Apa Yang Harus Dipakai?
Selama setiap periode fiskal tertentu, besar kemungkinan suatu barang akan dibeli dengan beberapa harga berbeda. Jika persediaan akan dinilai pada biaya perolehan dan beberapa pembelian telah dilakukan dengan biaya per unit yang berbeda,harga mana yang harus digunakan? Secara konseptual, identifikasi khusus atas pos-pos yang terjual dan pos-pos yang belum terjual terlihat optimal, tetapi cara ini seringkali tidak hanya mahal tetapi juga tidak mungkin untuk diterapkan. Sebagai akibatnya, beberapa asumsi arus biaya (cost flow asumption) yang bersifat sistematis dapat digunakan.
Sebetulnya, arus fisik barang aktual dan asumsi arus biaya seringkali sangat berbeda. Tidak ada keharusan bahwa asumsi arus biaya yang dipakai terus konsisten dengan pergerakan fisik barang. Tujuan utama dari pemilihan asumsi arus biaya adalah untuk memilih asumsi yang paling mencerminkan laba periodik, sesuai kondisi yang berlaku.
a.          Identifikasi Khusus
Identifikasi khusus (specific identification) digunakan dengan cara mengidentifikasi setiap barang yang dijual dan setiap barang dalam pos persediaan. Biaya barang-barang yang telah terjual dimasukkan dalam harga pokok penjualan, sementara biaya barang-barang khusus yang masih berada di tangan dimasukkan pada persediaan. Metode ini hanya bisa digunakan dalam kondisi yang memungkinkan perusahaan memisahkan pembelian yang berbeda yang telah dilakukan secara fisik. Metode ini dapat diterapkan dengan baik dalam situasi yang melibatkan sejumlah kecil item berharga tinggi dan dapat dibedakan. Dalam industri ritel hal ini meliputi beberapa jenis perhiasan, jas bulu, mobil dan sejumlah furnitur. Dalam area manufaktur, meliputi produk pesanan khusus dan banyak produk yang diproduksi menurut job cost system.
b.         Biaya Rata-rata
Seperti tersirat dalam namanya, metode biaya rata-rata (average cost method) menghitung harga pos-pos yang terdapat dalam persediaan atas dasar biaya rata-rata barang yang sama yang tersedia selama suatu periode. Metode biaya rata-rata yang lain adalah metode rata-rata bergerak (moving average method) yang digunakan dalam system persediaan perpetual.
Kelebihan
Kekurangan
Keuntungan dan kelebihan metode berada diantara metode FIFO dan LIFO.
Keuntungan dan kelebihan metode berada diantara metode FIFO dan LIFO.

c.          First-In, First-Out (FIFO)
Metode FIFO mengasumsikan bahwa barang-barang digunakan (dikeluarkan) sesuai urutan pembeliannya. Dengan kata lain, metode ini mengasumsikan bahwa barang pertama yang dibeli adalah barang pertama yang digunakan (dalam perusahaan manufaktur) atau dijual (dalam perusahaan dagang). Karena itu, persediaan yang tersisa merupakan barang yang dibeli paling terakhir.
Kelebihan
Kekurangan
Nilai persediaan disajikan secara relevan di Laporan Posisi Keuangan
Pajak yang dihasilkan menjadi lebih besar
Menghasilkan laba yang lebih besar
Laba yang dihasilkan kurang akurat

d.         Last-In, First-Out (LIFO)
Metode LIFO menandingkan (matches) biaya dari barang-barang yang paling akhir dibeli terhadap pendapatan. Jika yang digunakan adalah persediaan periodic, maka akan diasumsikan bahwa biaya dari total kuantitas yang terjual atau dikeluarkan selama suatu bulan berasal dari pembelian paling akhir.
Kelebihan
Kekurangan
Bisa menghemat pajak ketika inflasi
Metode ini lebih rumit, biaya pembukuan menjadi lebih mahal

Laba rugi yang dihasilkan lebih rendah

2.8      Dasar Pemilihan Metode Persediaaan
Bagaimana memilih salah satu di antara berbagai persediaan? Walaupun tidak ada aturan yang absolut untuk itu, namun kecenderungan untuk memilih LIFO biasanya dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi berikut :
1.          Harga jual dan pendapatan telah meningkat lebih cepat disbanding biaya, sehingga mendistorsi laba.
2.          Dalam situasi di mana LIFO sudah menjadi tradisi.
Sebaliknya, LIFO mungkin tidak akan tepat dalam situasi di mana :
1. Harga cenderung menurun terhadap biaya.
2. Pemakaian metode identifikasi khusus sudah merupakan tradisi.
3. Biaya per unit cenderung menurun seiring dengan meningkatnya produksi.
2.9 Kesalahan dalam perhitungan persediaan
Persediaan akhir di priode berjalan akan secara otomatis menjadi persediaan awal di tahun berikutnya. Kesalahan yang terjadi dalam melakukan perhitungan atas persediaan akan mempengaruhi baik neraca atau laporan karna persediaan merupakan aset lancar,maka besarnya aset lancar maupun total aset perusahaan secara keseluruhan juga akan menjadi salah saji di neraca efeknya terhadap harga pokok penjualan dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut ;
Persediaan awal + harga pokok pembelian – persediaan akhir = harga pokok penjualan
Efeknya terhadap laba kotor dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut;
Penjualan bersih – harga pokok penjualan = laba kotor

Sedangkan efeknya terhadap laba bersih dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut;
Laba kotor – beban operasional +/- pendapatan ( beban ) lain-lain = laba bersih
        Sebagai ilustrasi ,misalkan berdasarkan perhitungan fisik atas persediaan yang dilakukan pada tanggal 31 desember 2018, perusahaan keliru mencatat sebesar Rp.452.000.000 ,-,padahal jumlah seharusnya Rp 475.000.000,-. Kesalahan pencatatan ini menyebabkan besar persediaan akhir, aset lancar, dan total aset dineraca menjadi kekecilan sebesar Rp 23.000.000 karna nilai persediaan akhir kekecilan ,maka harga pokok penjualan dalam laporan laba rugi akan menjadi kebesaran Rp 23.000.000 sejak laba bersih ditutup keperkiraan modal,maka besar modal dalam neraca per tanggal 31 desember 2018 akan menjadi kekecilan Rp 23.000.000 efeknya terhadap laporan keuangan perusahaan sebagai berikut ;

Jumlah salah saji
Neraca :
        Persediaan akhir kekecilan                                                                  Rp. (23.000.000),-
        Aset lancar kekecilan                                                                          Rp. (23.000.000),-
        Total aset kekecilan                                                                             Rp. (23.000.000),-
        Modal kekecilan                                                                                  Rp. (23.000.000),-

Laporan Laba Rugi :
        Harga pokok penjualan kebesaran                                                      Rp.  23.000.000,-
        Laba kotor kekecilan                                                                           Rp. (23.000.000),-
        Laba bersih kekecilan                                                                          Rp. (23.000.000),-

Sekarang sebaliknya, misalkan berdasarkan perhitungan fisik atas persediaan pada tanggal 31 Desember 2018, perusahaan telah keliru mencatatnya sebesar Rp. 475.000.000,- , padahal jumlah yang benar adalah Rp. 452.000.000,- . kesalahan dalam pencatatan menyebabkan besar persediaan akhir, aset lancar, dan total aset di neraca menjadi kebesaran Rp.23.000.000,-.

Karna nilai persediaan akhir kebesaran maka harga pokok penjualan menjadi kekecilan Rp. 23.000.000,-. Pada akhirnya laba kotor dan laba bersih menjadi kebesaran Rp.23.000.000,- . sejak laba bersih ditutup ke akun modal, maka besar modal yang disajikan di neraca per tanggal 31 Desember 2018 akan kebesaran Rp.23.000.000,-. Efeknya terhadap laporan keuangan perusahaan akan diringkas sebagai berikut :

Jumlah salah saji
Neraca :
        Persediaan akhir kebesaran                                                                 Rp. 23.000.000,-
        Aset lancar kebesaran                                                                         Rp. 23.000.000,-
        Total aset kebesaran                                                                            Rp. 23.000.000,-
        Modal kebesaran                                                                                 Rp. 23.000.000,-

Laporan Laba Rugi :
        Harga pokok penjualan kekecilan                                                       Rp. (23.000.000),-
        Laba kotor kebesaran                                                                          Rp. 23.000.000,-
        Laba bersih kebesaran                                                                         Rp. 23.000.000,-









Contoh Soal 1
PT. Saburai melakukan perlakuan (pembelian, penjualan) persediaan pada tahun 2018 adalah sebagai berikut :
Tanggal
Keterangan
Kuantitas
Harga
2     Januari
Persediaan Awal
200 unit
Rp. 9000
10   Maret
Pembelian
300 unit
Rp. 10.000
5     April
Penjualan
200 unit
Rp. 15.000
7     Mei
Penjualan
100 unit
Rp. 15.000
21   September
Pembelian
400 unit
Rp. 11.000
18   November
Pembelian
100 unit
Rp. 12.000
20   November
Penjualan
200 unit
Rp. 17.000
10   Desember
Penjualan
200 unit
Rp.18.000
Diminta :
1.     Hitunglah nilai persediaan akhir Sistem perpetual dengan metode FIFO, LIFO dan Average
2.     Hitung Laba Kotor dan Harga Pokok Penjualan











1.     FIFO (First in first out )
Tanggal
Pembeliaan
Harga Pokok Penjualan
Persediaan
Unit
Harga
/unit
Total
harga
Unit
Harga
/unit
Total
harga
Unit
Harga
/unit
Total
harga
02/jan
-
-
-
-
-
-
200
9.000
1.800.000
10/mar
300
-
10.000
-
3.000.000
-
-
-
-
-
-
-
200
300
9.000
10.000
1.800.000
3.000.000
5/apr
-
-
-
200
9.000
1.800.000
300
10.000
3.000.000
7/mei
-
-
-
100
10.000
1.000.000
200
10.000
2.000.000
21/sep
400
11.000
4.400.000
-
-
-
200
400
10.000
11.000
2.000.000
4.400.000
18/nov
100
12.000
1.200.000
-
-
-
200
400
100
10.000
11.000
12.000
2.000.000
4.400.000
1.200.000
20/nov
-
-
-
-
-
-
200
-
10.000
-
2.000.000
-
400
100
11.000
12.000
4.400.000
1.200.000
10/des
-
-
-
-
-
-
200
-
11.000
-
2.200.000
-
200
100
11.000
12.000
2.200.000
1.200.000
Total
800
-
8.600.000
700
-
7.000.000
300
-
3.400.000
2.     LIFO (Last in First out)
Tanggal
Pembeliaan
Harga Pokok Penjualan
Persediaan
Unit
Harga
/unit
Total
harga
Unit
Harga
/unit
Total
harga
Unit
Harga
/unit
Total
harga
02/jan
-
-
-
-
-
-
200
9.000
1.800.000
10/mar
300
-
10.000
-
3.000.000
-
-
-
-
-
-
-
200
300
9.000
10.000
1.800.000
3.000.000
5/apr
-
-
-
-
-
-
200
-
10.000
-
2.000.000
-
200
100
9.000
10.000
1.800.000
1.000.000
7/apr
-
-
-
100
10.000
1.000.000
200
9.000
1.800.000
21/sep
400
-
11.000
-
4.400.000
-
-
-
-
-
-
-
200
400
9.000
11.000
1.800.000
4.400.000
18/nov
100
-
-
12.000
-
-
1.200.000
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
200
400
100
9.000
11.000
12.000
1.800.000
4.400.000
1.200.000
20/nov
-
-
-
-
-
-
100
100
12.000
11.000
1.200.000
1.100.000
200
300
9.000
11.000
1.800.000
3.300.000
10/des
-
-
-
-
-
-
200
-
11.000
-
2.200.000
-
200
100
9.000
11.000
1.800.000
1.100.000
Total
800
-
8.600.000
700
-
7.500.000
300
-
2.900.000
3.     Average (Rata-Rata)
Tanggal
Pembeliaan
Harga Pokok Penjualan
Persediaan
Unit
Harga
/unit
Total
harga
Unit
Harga
/unit
Total
harga
Unit
Harga
/unit
Total
harga
02/jan
-
-
-
-
-
-
200
9.000
1.800.000
10/mar
300
10.000
3.000.000
-
-
-
500
9.600
4.800.000
5/apr
-
-
-
200
9.600
1.920.000
300
9.600
2.880.000
7/mei
-
-
-
100
9.600
1.960.000
200
9.600
1.920.000
21/sep
400
11.000
4.400.000
-
-
-
600
10.530
6.320.000
18/nov
100
12.000
1.200.000
-
-
-
700
10.740
7.520.000
20/nov
-
-
-
200
10.740
2.148.000
500
10.740
5.370.000
10/des
-
-
-
200
10.740
2.148.000
300
10.740
3.222.000
Total
800
-
8.600.000
700
-
8.176.000
300
-
3.222.000




4.     Harga Pokok Penjualan

A.    Sistem Periodik

FIFO
LIFO
AVERAGE
Persediaan
Awal

1.800.000
1.800.000
1.800.000
Pembelian
8.600.000

8.600.000
8.600.000
Barang tersedia
Untuk dijual

10.400.000
10.400.000
10.400.000
Persediaan
Akhir

(3.400.000)
(2.900.000)
(3.222.000)
Harga Pokok
Penjualan
7.000.000
7.500.000
7.178.000


B.     Sistem Perpetual

FIFO
LIFO
AVERAGE
Persediaan
Awal

1.800.000
1.800.000
1.800.000
Pembelian
8.600.000

8.600.000
8.600.000
Barang tersedia
Untuk dijual

10.400.000
10.400.000
10.400.000
Persediaan
Akhir

(3.400.000)
(2.900.000)
(3.222.000)
Harga Pokok
Penjualan
7.000.000
7.500.000
7.178.000


5.     Laba Kotor
A.    Sistem Periodik

FIFO
LIFO
AVERAGE
Penjualan
11.500.000
11.500.000
11.500.000
Harga Pokok
Penjualan
(7.000.000)
(7.500.000)
(7.178.000)
Laba Kotor
4.500.000
4.000.000
4.322.000
B.      Sistem Perpetual

FIFO
LIFO
AVERAGE
Penjualan
11.500.000
11.500.000
11.500.000
Harga Pokok
Penjualan
(7.000.000)
(7.500.000)
(7.178.000)
Laba Kotor
4.500.000
4.000.000
4.322.000





6.     Jurnalnya
A.    Periodik (FIFO)
Saat Mencatat Pembelian:
Pembelian
Rp. 8.600.000
           Utang usaha/Kas
          Rp. 8.600.000
Saat Mencatat Penjualan:
Piutang Usaha/Kas
Rp. 11.500.000
         Penjualan
           Rp. 11.500.000
Saat Penyesuaian untuk Persediaan:
Ikhtisar Rugi Laba
Rp. 1.800.000
          Persediaan
          Rp. 1.800.000
Persediaan
Rp. 3.400.000
          Ikhtisar Rugi Laba
          Rp. 3.400.000
B.    Perpetual (FIFO)
Saat Mencatat Pembelian:
Persediaan
Rp. 8.600.000
               Utang Usaha/Kas
           Rp. 8.600.000
Saat Mencatat Penjualan:
Piutang Usaha
Rp. 11.500.000
                 Penjualan
           Rp. 11.500.000
Harga Pokok Penjualan
Rp. 7.000.000
                Persediaan
           Rp. 7.000.000


No comments:

Post a Comment